Indonesia.go.id - Agar Produk Alas Kaki Indonesia Semakin Jauh Jalannya

Agar Produk Alas Kaki Indonesia Semakin Jauh Jalannya

  • Administrator
  • Rabu, 28 September 2022 | 12:25 WIB
EKSPOR
  Sektor industri manufaktur kini menjadi penyangga ekonomi Indonesia. Sumbangan sektor industri kulit dan alas kaki jadi salah satu penopangnya. ANTARA FOTO
Pada 2021, ekspor produk kulit, barang jadi kulit dan alas kaki mencatat nilainya USD6,15 miliar. Indonesia kini berada di peringkat keenam pengekspor alas kaki di dunia.

Sektor industri kini telah menjadi penyangga ekonomi Indonesia. Sumbangan sektor itu bagi neraca perdagangan terus tumbuh.  Kementerian Perindustrian menyampaikan, kontribusi sektor industri, bila dilihat selama periode Januari-Agustus 2022, paling besar. Yakni, mencapai 71,55 persen dari total nilai ekspor nasional USD194,60 miliar.

Dari gambaran itu, kinerja sektor industri yang cukup moncer tentunya memberikan gambaran cukup menjanjikan bagi perekonomian nasional ke depannya. Meskipun, situasi global kini masih dihantui risiko ketidakpastian.

“Kinerja ekspor dari sektor industri manufaktur masih terus melambung, meskipun berada di tengah risiko ketidakpastian kondisi global yang membayangi ekonomi nasional,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Minggu (18/9/2022).

Menperin juga menjelaskan, pengapalan sektor industri manufaktur konsisten memberikan andil yang besar terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia. “Neraca perdagangan kita surplus selama 28 bulan berturut-turut, dan ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah dalam pemulihan ekonomi berada pada jalur yang tepat,” ungkapnya.

Agus Gumiwang menambahkan, dari sekian jenis subsektor industri, salah satunya adalah industri kulit, barang jadi kulit, dan alas kaki tumbuh positif sebesar 13,12 persen pada kuartal II tahun ini.

Kinerja gemilang tersebut masuk tiga besar di sektor industri pengolahan. Itu disebabkan tingginya permintaan ekspor, daya tarik investasi yang semakin baik, dan pengalihan order dari beberapa brand global ke Indonesia.

“Utilitas industri kulit, barang jadi kulit, dan alas kaki juga mengalami kenaikan menjadi 84,49 persen pada Juli lalu. Sedangkan utilitas sebelum pandemi sekitar 80,18 persen,” ujar Menteri Agus.

Menurut data Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo), industri sepatu terus mengalami pertumbuhan. Pada 2021, ekspor produk kulit, barang jadi kulit dan alas kaki mencatat pertumbuhan sebesar 28,3 persen. Nilainya pun lumayan, yakni USD6,15 miliar.

Dengan nilai ekspor sebesar itu, posisi Indonesia sebagai produsen sepatu dunia kini berada di peringkat keenam. “Tahun ini pertumbuhan ekspor terus naik. Kenaikannya sampai di atas 40 persen,” ujar Sekjen Aprisindo Lany Sulaiman.

Sementara itu, nilai ekspor kulit, barang jadi kulit, dan alas kaki sampai dengan Juni 2022 tercatat USD4,62 miliar atau naik 41,26 persen jika dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya sebesar USD3,26 miliar. Tidak dipungkiri, produk alas kaki Indonesia terutama sepatu sport Indonesia ke pasar luar negeri tumbuh pesat. Pasalnya, sejumlah merek global memproduksi dagangannya di Indonesia yang kemudian diekspor kembali ke pasar global. Contohnya, ke pasar Amerika Serikat atau Uni Eropa.

Kompetitifnya produk sepatu sport asal Indonesia terkonfirmasi dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Data lembaga itu menyebutkan ekspor sepatu olahraga Indonesia ke Amerika Serikat mencapai USD1,63 miliar pada 2021, tumbuh 60,77% dari tahun sebelumnya.

Ekspor ke Amerika Serikat berkontribusi sekitar 35,41 persen terhadap total ekspor sepatu olahraga nasional pada 2021. Ini menjadikan Amerika Serikat sebagai pasar terbesar, disusul oleh Tiongkok dan Belgia.

Sebagai salah satu produk unggulan nonmigas, pemerintah terus mendorong semakin meluasnya pasar produk alas kaki asal Indonesia di pasar global.

 

Terobosan Pasar

Dalam konteks ini, strategi berupa pemantapan pangsa pasar ekspor Indonesia di pasar ekspor utama (market maintenance) tetap patut dilakukan. Selain juga, melakukan terobosan pasar dengan menyasar negara-negara nontradisional atau pasar prospektif.

Ini sesuai dengan janji yang dikemukakan Mendag Zulkifli Hasan. Yakni, produk alas kaki tergolong industri padat karya. Artinya, industri menjadi sektor strategis karena menyerap banyak tenaga kerja.

Sebut saja pabrik rekanan Nike, PT Pratama Abadi Industri, yang menaungi 40.000 tenaga kerja. Lebih jauh, Zulkifli Hasan juga berharap, produk alas kaki Indonesia semakin meluas pasarnya, tidak hanya ke pasar ekspor utama (market maintenance) tetap patut dilakukan selain juga melakukan terobosan pasar dengan menyasar negara-negara nontradisional

Misalnya, rencana pemerintah memperluas pasar produk Indonesia di Uni Eropa. “Pemerintah kini tengah melakukan perundingan perjanjian dengan Uni Eropa. Perundingan itu diharapkan segera rampung agar semakin membuka pasar produk Indonesia di Uni Eropa, namun masih terkendala isu open bidding. “

Sebagai informasi, Indonesia dan Uni Eropa kini sedang melakukan perundingan melalui Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Namun, perundingan Indonesia dan Uni Eropa berkaitan IEU-CEPA masih terganjal beberapa isu, antara lain, liberalisasi tarif, penghapusan non-tariff measures produk Indonesia ke Uni Eropa.

Harapannya, perundingan IEU CEPA segera menemukan titik temu sehingga pasar Uni Eropa bagi komoditas ekspor Indonesia lebih terbuka, termasuk produk alas kaki akan membawa dampak positif baik terhadap PDB maupun terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia.

 

Penulis: Firman Hidranto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari