HARI DISABILITAS INTERNASIONAL
  Dante Rigmalia, ketua Komite Nasional Disabilitas bersama anggota komisi tersebut dilantik Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada Rabu (1/12/2021). SETPRES

Babak Baru Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas

  •   Sabtu, 4 Desember 2021 | 06:02 WIB
  •   Oleh : Administrator

Keberadaan Komnas Disabilitas adalah bukti nyata bahwa pemerintah jelas dan tegas dalam memperhatikan perlindungan dan penghormatan hak-hak penyandang disabilitas.

Pelantikan tujuh anggota Komisi Nasional (Komnas) Disabilitas oleh Presiden RI Joko Widodo pada Rabu (1/12/2021) di Istana Negara, Jakarta, merupakan kado bagi penyandang disabilitas tanah air seiring dengan Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) setiap 3 Desember kali ini.

Keberadaan Komnas Disabiltas adalah bukti nyata bahwa pemerintah jelas dan tegas dalam memperhatikan perlindungan dan penghormatan hak-hak penyandang disabilitas. Pelantikan Komnas Disabilitas (KND) tersebut merupakan wujud dari komitmen Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam merealisasikan Undang-Undang nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Undang-undang tersebut diperkuat oleh Peraturan Presiden nomor 68 tahun 2020 tentang Komisi Nasional Disabilitas.

"Berdirinya Komisi Nasional Disabilitas ini adalah sebagai langkah awal yang positif atas kesetaraan penyandang disabilitas untuk menciptakan lingkungan yang inklusif di Indonesia yang ramah terhadap disabilitas," ujar Staf Khusus (Stafsus) Presiden Angkie Yudistia, usai pelantikan anggota KND di Istana Negara.

Berikut ini nama-nama anggota Komnas Disablitas periode tahun 2021-2026 yang dilantik berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) nomor 53/M tahun 2021 tentang Pengangkatan Keanggotaan Komisi Nasional Disabilitas tersebut:

  1. Dante Rigmalia, sebagai ketua merangkap anggota, pendidik dan konsultan pendidikan untuk pendidikan anak berkebutuhan khusus di area gangguan belajar (learning disability),
  2. Deka Kurniawan, sebagai wakil ketua merangkap anggota, pendiri dari Rumah Autis yang bernaung di bawah Yayasan Cahaya Keluarga Fitrah (CAGAR),
  3. Eka Prastama Widiyanta, sebagai anggota, aktif di isu penyandang disabilitas di Hellen Keller International, Clinton Health Acces Inisiative dan Netherland Leprocy Relief Indonesia,
  4. Kikin Purnawirawan Tarigan Sibero, sebagai anggota, ia sebelumnya dikenal sebagai Wakil Ketua DPP Serikat Rakyat Indonesia (SERINDO) dan mantan Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI),
  5. Fatimah Asri Muthmainah, sebagai anggota, Fatimah selain di Fatayat NU Lasem juga aktif di organisasi Disabilitas Multi Karya Rembang (DMKR), Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) dan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI),
  6. Jonna Aman Damanik, sebagai anggota, saat ini Jonna tergabung dalam Forum Masyarakat Pemantau Untuk Indonesia Inklusif Disabilitas (FORMASI Disabilitas),
  7. Rachmita Maun Harahap, sebagai anggota, dosen tuna rungu bergelar S3 jurusan Desain Interior di Universitas Mercu Buana, Jakarta.

 

Pada kesempatan tersebut, Ketua Komnas Disabilitas Dante Rigmalia menyampaikan bahwa pelantikan anggota Komnas Disabilitas merupakan bagian dari rangkaian proses untuk mewujudkan upaya penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas.

Dengan begitu, menurut Dante, para penyandang disabilitas dapat menikmati hasil pembangunan, kemudian berkontribusi dalam pembangunan nasional. "Ke depannya juga dapat mandiri sebagai individu dan sebagai warga negara yang berkontribusi untuk negaranya," imbuhnya.

Pembentukan KND juga sebagai wujud dari implementasi Convention of The Rights of Persons with Disabilities (CRPD). Dengan keberadaan Komnas Disabilitas, kepedulian negara kepada para penyandang disabilitas semakin nyata. Ia menambah panjang deretan kebijakan pemerintah yang meninggikan harkat mereka.

Belum lama ini, betapa pemerintah meninggikan derajat para atlet penyandang disabilitas. Sesuai berjibaku mengharumkan nama bangsa dan negara di Asian Paralympic 2018 dan Paralympic 2020, mereka memperoleh bonus sama besar dengan atlet peraih medali di Asian Games 2018 dan Olimpiade 2020. Bahkan pebulutangkis paralimpik, Leani Ratri Oktila meraup bonus hingga Rp13,5 miliar.

Pun demikian di ajang Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI yang belum lama ini bergulir di Papua. Perhatian pemerintah setara dengan perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua. Prestasi para atlet paralimpik tak kalah hebatnya dengan atlet nondisabilitas. Ratusan rekor baru muncul dari arena Peparnas.

 

Inovasi Teknologi

Di samping memperkuat lembaga dalam memberikan penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas, pemerintah melalui Kementerian Sosial terus memperkuat pembentukan lingkungan inklusif dan aksesibel bagi penyandang disabilitas.

"Keberpihakan kepada penyandang disabilitas dilakukan Kemensos dengan memperkuat tiga strategi. Yakni memperkuat lingkungan yang inklusif, mengurangi ketidaksetaraan, dan menumbuhkan kepemimpinan dari penyandang disabilitas," kata Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini dalam rangkaian peringatan HDI 2021 di Jakarta, Rabu (1/12/2021).

Lingkungan yang ramah dan memberikan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas, diharapkan tidak hanya terus diperluas di ranah publik. Namun juga tidak kalah penting di bidang hak konstitusional warga negara, seperti memberikan akses pendidikan seluas mungkin.

"Saya berharap, sekolah umum pun bisa menerima penyandang disabilitas. Ini mimpi saya. Karena saya yakin, di balik kekurangan seseorang, juga ada kelebihan. Saya yakin saudara kita para penyandang disabilitas tidak kalah dengan nonpenyandang disabilitas," kata Mensos.

Kemensos juga terus mengurangi kondisi ketidaksetaraan yang dihadapi penyandang disabilitas. Adapun langkah Kemensos yang dilakukan saat ini dengan mengembangkan inovasi teknologi. "Saudara-saudara kita yang mengalami celebral palsy, disabilitas fisik atau sensorik netra, kita berikan alat bantu. Alat-alat ini diberikan sentuhan inovasi teknologi, sehingga membantu mobilitas mereka," kata Menteri Risma.

Para penderita celebral palsy, Kemensos memberikan alat bantu, salah satunya berupa kursi roda bioteknik. Dengan bantuan alat, kata Mensos, diharapkan penderita celebral palsy yang tadinya hanya berbaring bisa duduk, atau bahkan bisa bergerak lebih leluasa.

Untuk penyandang disabilitas sensorik netra, Kemensos telah mengembangkan tongkat penuntun adaptif. Tongkat penuntun adaptif dilengkapi sensor air, api, benda dan GPS. "Ini semua dikembangkan oleh para penyandang disabilitas. Jangan salah, hasil karya mereka ini lebih halus dan presisi," tukas Mensos.

Melalui pemanfaatan teknologi di atas, memungkinkan penyandang disabilitas menjadi produktif dan lebih berpartisipasi aktif dalam segala bidang kehidupan.

 

 

Penulis: Kristantyo Wisnubroto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari