COVID-19
  Pekerja melakukan bongkar muat Vaksin COVID-19 AstraZeneca setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Upaya menambah vaksin terus diupayakan pemerintah.INFOPUBLIK

Menarik Pedal Rem di Penghujung Tahun

  •   Minggu, 28 November 2021 | 08:53 WIB
  •   Oleh : Administrator

Meski telah diakui mampu mengendalikan lonjakan Covid-19, Indonesia berhati-hati mengelola situasi. Pedal rem ditarik agar Nataru tak mendorong mobilitas dan aktivitas yang tak terkendali.

Dalam peta dunia bertajuk “Covid-19 Travel Recommendations by Destination”, wilayah Indonesia digambarkan dengan warna kuning. Artinya, termasuk negara level 1, dengan tingkat penularan Covid-19 yang rendah.

Dalam peta terbitan otoritas tertinggi dalam urusan corona, Centers for Desease Control and Prevention (CDC), Tiongkok, Jepang, India, dan Pakistan juga tergolong kuning, level 1. Sedangkan negara tetangga Malaysia dan Singapura berwarna merah tosca, Level 4. Artinya, penularan di negara itu dianggap sangat tinggi.

Dalam peta terbaru yang dirilis 22 November 2021, Australia masuk kelompok merah candy (level 3) dengan tingkat penularan tinggi, sedangkan New Zealand masuk daerah oranye (level 2), dengan tingkat penularan moderate.

Bukan kali ini saja CDC menempatkan Indonesia ke dalam jajaran negara level satu, di mana warga AS sudah bisa berkunjung, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan serta sudah divaksinasi lengkap. Pada peta risiko edisi 25 Oktober lalu, Indonesia pun sudah dimasukkan ke dalam level 1. Kriteria untuk level 1, bila  angka kasus aktifnya lebih rendah dari 50 per 100.000 penduduk.

Kondisi Indonesia sudah jauh lebih baik dari persyaratan itu. Ditambah pula bahwa positivity rate hasil surveilans sudah di bawah 1 persen. Badan kesehatan dunia WHO bahkan telah memetakan Indonesia masuk ke level 1 sejak pekan ke-2 September 2021 ketika kasus harian secara konsisten telah turun di bawah 5.000 per hari yang diikuti surutnya angka kematian dan perbaikan bed occupancy ratio (BOR) di rumah sakit seluruh penjuru negeri.

"Perlu diketahui, di kawasan ini level 1 saat ini hanya India, Tiongkok, Jepang, dan Indonesia. Thailand, itu level 2 dan seterusnya. Jadi, negara kita ini telah diapresiasi oleh banyak negara dan dipandang mampu me-manage (penyebaran) Covid-19 dengan bagus," kata Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marinves) Luhut Binsar Pandjaitan dalam acara Indonesia Economic Oulook 2022 di Jakarta, Rabu (24/11/2021).

Meskipun telah berada di level 1, Menko Luhut meminta masyarakat tidak lengah. Bisa saja kasus Covid-19 kembali naik jika disiplin menerapkan protokol kesehatan kendor. "Jadi kata kunci di sini kita harus mematuhi arahan-arahan pemerintah," kata Luhut menambahkan.

Pada periode Natal dan tahun baru (Nataru), pemerintah juga mengambil pendekatan yang sangat hati-hati. Selama 10 hari (24 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022), pemerintah akan menjalankan PPKM Level 3 di seluruh provinsi.

Belajar dari pengalaman 2021, lonjakan mobilitas pada periode Nataru telah memicu ledakan kasus infeksi Covid-19, dan mengakibatkan pemulihan ekonomi justru anjlok. Maka, pembatasan mobilitas dan kegiatan Nataru pun  dilakukan selama 10 hari.

Surutnya pandemi adalah momentum yang perlu dimanfaatkan untuk pemulihan ekonomi. Hingga akhir November 2021, hanya segelintir negara besar yang bisa masuk ke level 1. Di luar Indonesia, India, Pakistan, dan Tiongkok, Uni Emirat Arab, belum ada negara emerging yang masuk level 1. Pada level 2 hanya ada New Zealand. Selebihnya masih berkutat di level 3 atau 4, seperti Eropa.

Pedal Rem

‘’Kita perlu catat sekarang, sudah sekitar 126 hari Covid-19 betul-betul terkendali. Namun ini belum selesai. Kita harus hati-hati dan disiplin untuk terus pertahankan posisi sekarang ini," Menko Luhut. Pemerintah sendiri terus mengejar target pembentukan kekebalan kelompok (herd imunnity) lewat vaksinasi. Sasarannya, vaksinasi dosis 1 mencapai 80 persen, dan vaksinasi dosis 2 (lengkap) dapat mencapai 60 persen pada akhir 2021 ini. Target penerima 208 juta.

Menko Luhut Pandjaitan mencatat, pengendalian Covid-19 serta pembukaan ekonomi secara bertahap mampu menahan pelambatan ekonomi kuartal III-2021 yang diwarnai gelombang kedua serangan Covid-19 yang masif. Toh, katanya, kuartal III masih dapat tumbuh 3,5 persen, lebih tinggi dari perkiraan, meski jauh di bawah growth kuartal II yang mencapai 7,1 persen. Pada kuartal IV, ia yakin pertumbuhan mencapai 5 persen.

"Keberhasilan kita menurunkan angka kasus Covid-19 dengan cepat, telah mendorong pemulihan ekonomi yang lebih cepat. Indeks Keyakinan Konsumen dari Bank Indonesia yang sempat turun ke tingkat pesimis, telah kembali pada tingkat optimis hanya dalam waktu tiga bulan," ucap dia.

Indeks Keyakinan Konsumen Oktober 2021 berada pada tingkat tertinggi di masa pandemi, yakni mencapai 113,4 dengan skala nilai optimis lebih dari 100. "Ini angka yang tadinya tidak kami duga, tapi kami bahagia bangsa ini mampu mengatasi keterpurukan tadi," kata Luhut.

Momentum bagi gerak penulihan ekonomi telah muncul, namun Menko Luhut menggarisbawahi, semuanya harus dilakukan dengan hati-hati. Gas dan rem harus seimbang. Langkah PPKM level 3 selama 10 hari pada suasana Natal dan tahun baru, ialah bentuk upaya menarik pedal rem, menurunkan laju mobilitas dan aktivitas masyarakat yang sulit terkontrol. Laju pemulihan ekonomi pun direm untuk kemaslahatan bersama.

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari