INDUSTRI
  Pembangunan smelter di Gresik memicu minat sejumlah investor berinvestasi SETPRES

Investor semakin Minati Bisnis Smelter

  •   Kamis, 25 November 2021 | 08:20 WIB
  •   Oleh : Administrator

Tidak hanya perusahaan multinasional yang berminat di bisnis penghiliran (smelter). Institusi finansial internasional juga mulai melirik peluang industri penghiliran.

Indonesia terus memacu daya saing industri dalam negerinya melalui peningkatan nilai tambah sumber daya alam atau penghiliran industri. Pengembangan industri hilir dinilai menjadi pilihan paling tepat, sehingga potensi di dalam negeri bisa dioptimalkan untuk memperkuat struktur perekonomian nasional.

Persoalan penghiliran sebenarnya sudah menjadi perhatian sejak lama. Dalam satu kesempatan, Presiden Joko Widodo bahkan tampak terus mendorong pelaku usaha untuk melakukan penghiliran. Pasalnya dengan melakukan penghiliran, menurut dia, bangsa ini memperoleh nilai tambah dan daya saing produk.

Tidak hanya perusahaan multinasional yang berminat di bisnis penghiliran (smelter). Institusi finansial internasional juga mulai melirik peluang industri penghiliran.

Seperti disampakan Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridwan Djamaluddin, setidaknya ada tiga perusahaan Jepang (Sumitomo Metal, Mitsu, dan Toyota Tsusho) yang sudah menyampaikan minatnya untuk mendukung pendanaan pembangunan smelter.

“Kami juga mengidentifikasi dua bank yang berpotensi dan berminat dalam pembangunan smelter. Keduanya, yakni Bank of China dan Japan Bank of International Corporation,” katanya, Rabu (10/11/2021).

Tidak itu saja, kementerian itu juga memerinci enam perusahaan menyatakan minat menjadi pelaksana proyek smelter. Mereka juga telah memasukkan info memo yang memuat seluruh informasi dalam prospektus awal dan informasi lain.

Enam perusahaan tersebut adalah PT Cerita Nugraha Indotama, PT Laman Mining, PT Macika Mineral Industri, PT Mahkota Konaweeha, PT Bintang Smelter Indonesia, dan PT Dinamika Sejahtera Mandiri.

Kementerian ESDM juga mengusulkan pembangunan smelter menjadi proyek strategis nasional untuk mempermudah masalah administrasi. Ridwan mengatakan bahwa usulan tersebut telah disampaikan kepada Kementerian Koordinator bidang Perekonomian.

“Dengan status proyek strategis nasional ini, kendala administratif, kendala perizinan dapat lebih mudah ditangani,” tuturnya.

Menurut data Kementerian ESDM, saat ini terdapat 19 smelter baru yang telah terbangun di Indonesia dengan tambahan empat smelter pada akhir tahun. Pemerintah menargetkan 53 smelter terbangun hingga 2024.

Adapun empat smelter yang bakal beroperasi tahun ini adalah milik PT Aneka Tambang Tbk, PT Smelter Nikel Indonesia, PT Cahaya Modern Metal Industri, dan PT Kapuas Prima Citra.

Dari sejumlah komitmen itu, pertanyaan selanjutnya, berapa investasi dari seluruh pembangunan smelter hingga 2024? Masih menurut data kementerian itu, kebutuhan investasinya mencapai USD8 miliar.

Ridwan menjelaskan, pemerintah telah melakukan pertemuan dengan para pembangun smelter untuk menginventarisasi kendala. Pemerintah juga turut membantu penyusunan info memo perusahaan smelter untuk ditawarkan kepada para calon investor dan calon pendana.  Saat ini, setidaknya 12 perusahaan disebut mengalami kendala dalam pembiayaan pembangunan smelter.

Dari gelaran Dubai Expo misalnya, Indonesia juga telah mendapatkan sejumlah komitmen investasi. Salah satunya dari Emirates Global Aluminium (EGA). Menurut Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier, perusahaan terbesar di Uni Emirat Arab akan bekerja sama dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum untuk meningkatkan kapasitas produksi komoditas tersebut.

“Emirates Global Aluminium berminat investasi bekerja sama dengan Inalum akan membawa teknologi baru untuk meningkatkan output produksi aluminiumnya,” kata Taufiek.

Terlepas dari semua itu, kebijakan di sektor perindustrian dengan terus menggenjot pendalaman struktur industri manufaktur, melalui kebijakan hilirisasi berbasis sektor primer, perlu terus diperjuangkan dan diimplementasikan di tingkatan masing-masing industri.

Apalagi melalui program hilirisasi, manfaat dalam meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian nasional, di antaranya peningkatan pada investasi, penyerapan tenaga kerja, dan pertumbuhan industri manufaktur di dalam negeri semakin terdongkrak.

 

 

Penulis: Firman Hidranto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari