HARI SANTRI
  Rumah susun yang diperuntukkan untuk pesantren. AKhir tahun direncanakan usai. KEMENPUPR

Rusun Sehat untuk Santri

  •   Senin, 18 Oktober 2021 | 13:54 WIB
  •   Oleh : Administrator

Rusun di pesantren termasuk dalam program resmi penyediaan hunian rakyat. Semua dibangun sebagai hunian sehat dan diserahkan berikut tempat tidur, lemari, dan meja belajar.

Menyongsong Hari Santri 22 Oktober di 2021, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki  Hadimuljono menyampaikan  berita gembira untuk kaum santri di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Pembangunan rumah susun (rusun) di Kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Ulum, Kota Tasikmalaya, berjalan lancar sesuai jadwal, dan diharapkan bisa rampung akhir tahun ini.

Menteri Basuki Hadimuljono menjelaskan, Kementerian PUPR mendapat tugas dari Presiden Joko Widodo untuk memperhatikan infrastruktur pendukung pendidikan, seperti hunian santri dan mahasiswa, agar mereka dapat lebih fokus belajar demi menggapai prestasi. Bahkan, pembangunan hunian bagi santri dan mahasiswa itu masuk bagian dalam “Program Sejuta Rumah” Presiden Jokowi.

“Dengan dibangunnya rusun ini diharapkan bisa membantu para santri untuk mendapatkan hunian yang layak selama proses belajar-mengajar dan mencetak sumber daya manusia [SDM] yang unggul dan berakhlak mulia,” ujarnya,dalam siaran pers, Rabu (13/10/2021).

Pembangunan Rusun Ponpes Hidayatul Ulum mulai dikerjakan sejak Juli 2021 dengan target selesai di Desember 2021. Saat ini, progres pembangunannya dalam tahap pemasangan bata ringan lantai I, kolom-kolom ukuran 11/11 pada lantai 1, pekerjaan bekisting penyangga ring balok lantai dak, yang realisasi seluruhnya mencapai 41 persen. Luas lantai bangunan 404 meter.

‘’Fasilitas pendukung yang kini dibangun di Ponpes Hidayatul Ulum itu berupa satu tower dua lantai tipe barak dengan kapasitas sekitar 60 santri,” kata Basuki.

Kepala Balai Pelaksana Wilayah Perumahaan Jawa II, Direktoral Jenderal  Perumahan, Kiagoos Egie Ismail, mengatakan bahwa pembangunan Rusun Ponpes Hidayatul Ulum ini menelan biaya APBN Rp2,5 miliar. Rusun tersebut nantinya akan diserahkan lengkap dengan tempat tidur, meja belajar, dan lemari. “Di situ juga akan tersedia listrik, air bersih, dapur, serta kamar mandi. Mudah-mudahan bisa mendorong para santri belajar lebih baik,” kata Kiagoos.

Pembina Ponpes Hidayatul Ulum Nanang Qosim pun bersyukur dan berterima kasih pada Kementerian PUPR yang telah memberikan bantuan rusun. “Kami dari pihak pondok pesantren sangat terbantu, karena  selama ini satu kamar bisa dipakai untuk 10 orang. Padahal, kamarnya hanya ukuran 5 X 4 meter persegi,” ujarnya.

Pada tahun anggaran 2021, Kementerian PUPR melalui  Ditjen Perumahan mengalokasikan Rp7,6 miliar untuk membangun rusun santri di Jawa Barat. Rusun di Ponpes Hihayatul Ulum adalah salah satunya, dan dua yang lain ada di Kabupaten Tasikmalaya dan Bandung Barat. “Ketiga rusun ponpes tersebut masuk dalam satu paket pekerjaan,” ujar Kiagoos Egie Ismail.

Terus Bergulir

Program rusun pesantren masih akan bergulir pada tahun-tahun mendatang, biasanya secara bergiliran di daerah berbeda. Meski dihadapkan pada gelombang  pandemi, program pembangunan rusun pesantren 2021 ini memang terus bergulir.

Diperkirakan ada 35 rusun pesantren yang selesai digarap pada 2021 dan tersebar di 30 provinsi. Rusun santri ini adalah bagian utama dari program pembangunan Rusun Lembaga Pendidikan Keagamaan Berasrama (LPKB).

Program pembangunan rusun pesantren sudah dilakukan Pemerintahan Presiden Jokowi sejak 2015. Pada tahun anggaran 2020, Kementerian PUPR mengalokasikan anggaran Rp101 miliar untuk membangun 34 tower (945 unit) rusun LPKB yang tersebar di 31 kabupaten/kota. Semuanya merupakan bangunan bertingkat dua atau tiga.

Pada periode sebelumnya, antara 2015--2018, Kementerian PUPR telah merampungkan 107 rusun pesantren dengan biaya Rp946 miliar. Di dalamnya ada 3.040 unit hunian, yang ukurannya cukup bervariasi. Yang standar ukuran 24 m2 untuk 6 orang santri atau bentuk barak ukuran 60–72 m2 untuk 20 santri.

Pembangunan rusun untuk pesantren itu sebelumnya telah dirintis di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada periode 2005 hingga 2014 telah dibangun sebanyak 537 tower dengan 3.850 unit hunian. Program itu berlanjut di era Presiden Joko Widodo.

Menurut data Kementerian PUPR, pada periode 2015--2019 dibangun 263 tower, dengan 5.743 unit hunian di dalamnya. Kementerian PUPR sendiri telah menjamin bahwa rusun memenuhi standar kelayakan hunian. Selain ada listrik, air yang cukup, aliran udara dan sinar matahari juga memadai. Jumlah kamar mandi dan toilet pun disesuaikan dengan jumlah penghuninya, dengan sanitasi yang terjaga.

‘’Pemerintah ingin membantu para santri agar mendapatkan hunian yang sehat, lingkungan yang sehat, agar mereka tumbuh sehat, cerdas, dan pintar, sehingga mampu menghadapi tantangan di hari depan,’’ kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, seraya berharap agar lingkungan sebagian pesantren yang kumuh dan kotor di masa lalu bisa terus berkurang jumlahnya.

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari