COVID-19
  Peserta simulasi meninggalkan bilik pemeriksaan RT-PCR saat simulasi penerbangan internasional di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Sabtu (9/10/2021).¬†ANTARA FOTO/ Fikri Yusuf

Tatkala Pintu Udara Indonesia Dibuka Lebih Lebar

  •   Rabu, 13 Oktober 2021 | 09:16 WIB
  •   Oleh : Administrator

Keputusan pemerintah untuk sedikit demi sedikit membuka wilayah Indonesia pada dunia luar itu tak terlepas dari kondisi pandemi dalam negeri yang terus melandai.

Pada Senin (11/10/2021), pemerintah menyatakan telah siap melayani kedatangan pelaku perjalanan internasional dari 18 negara, melalui tiga pintu utama ke Indonesia, yakni di Bandara Soekarno Hatta Tangerang, Bandara Ngurah Rai Bali, dan Sam Ratulangi Manado. Ketentuan ini akan berlaku mulai 14 Oktober 2021.

Pengumuman pemerintah yang disampaikan Menko Kemaritiman dan Investasi (Marinves) Luhut Binsar Pandjaitan usai rapat kabinet terbatas evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) itu mengubah keputusan sepekan sebelumnya. Di mana pemerintah ketika itu hanya mengizinkan kedatangan traveller lintas batas negara dari Abu Dhabi, Dubai, Jepang, Korea Selatan, New Zealand, dan Tiongkok.

Menko Luhut Panjaitan belum bersedia merinci daftar 18 negara baru itu. Namun, dia memastikan, Singapura tak  termasuk dalam ke-18 negara tersebut. ‘’Saya kira Singapura belum memenuhi standar level satu atau level dua sesuai standar WHO,’’ ujarnya, pada  konferensi pers virtual lewat kanal Youtube Sekretariat Presiden RI itu.

Terhadap tamu asing (dari ke-18 negara tersebut) dan WNI yang kembali ke Indonesia diberlakukan ketentuan yang sama. Selain harus berbekal dokumen resmi bebas Covid-19 dari negara asal yang dibuktikan dari hasil pemeriksaan PCR, yang bersangkutan pun harus menjalani karantina selama lima hari, dan melakukan pemeriksaan PCR ulang dan terbukti negatif Covid-19, sebelum diizinkan untuk berkegiatan di luar ruang karantina.

‘’Mengapa lima hari? Karena kami hitung masa inkubasinya itu 4,8 hari, jadi maksimum itu sudah turun di bawah 4 persen probability penularan. Jadi, saya kira risikonya kini sudah semakin rendah karena tingkat imunitas kita bertambah, sejalan dengan jumlah yang orang divaksin serta lansia yang divaksin juga terus bertambah," jelasnya.

Pemerintah membuka jalur masuk para pelaku perjalanan internasional, di jalur darat, laut, udara,  masing-masing di tiga titik. Untuk gerbang udara ada di Bandara Soekarno-Hatta, Ngurah Rai, dan Sam Ratulangi. Pintu masuk laut ada di Pelabuhan Batam, Tanjung Pinang, dan Nunukan di Kalimantan Utara. Sedangkan jalur darat melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk, Entikong (keduanya di Kalimantan Barat), dan Motaain di Nusa Tenggara Timur.

Keputusan pemerintah untuk sedikit demi sedikit membuka wilayah Indonesia pada dunia luar itu tak terlepas dari kondisi pandemi dalam negeri yang terus melandai. Insidensi kasus baru Covid-19 terus menurun, angka kejangkitan (positivity rate) menyusut, begitu pun jumlah pasien dan angka kematiannya.

Pada sisi lain, ketahanan terhadap pandemi dianggap terus meningkat yang ditandai dengan cakupan vaksinasi yang meningkat, pelaksanaan prokes yang makin melembaga dan faskes (fasilitas  kesehatan) semakin kuat.

Secara global, Covid-19 pun terus melandai. Gelombang 3 serangan Covid-19 terjadi pertengahan Agustus dan setelah itu terus menurun, dengan beberapa pengecualian. Inggris, Rusia,  dan Turki, masih mencatatkan angka kasus harian yang tinggi. Di wilayah Asean, insidensi Covid-19 di Filipina, Thailand, dan Vietnam, juga terus melandai.

Satu-satunya negara di Asean yang masih bergulat melawan penularan Covid-19 justru Singapura. Sejak akhir Agustus, gelombang kedua penularan Covid-19 di sana terus meningkat, bahkan mencapai rekor tertinggi dengan 3.273 kasus baru pada 11 Oktober, dengan angka kematian 9 orang. Angka terburuk yang pernah tercatat di negeri yang sudah menorehkan cakupan vaksinasi (dosis lengkap) di atas 81 persen itu. Mobilitas tinggi dan kontak antarwarga yang rapat di Singapura, setelah satu tahun nyaris tak ada lonjakan, diperkirakan menjadi penyebab ledakan itu.

Recovery Tertinggi di Asean

Dalam hal penanggulangan pandemi, saat ini Indonesia menduduki peringkat pertama dan terbaik di Asean. Berdasarkan data Johns Hopkins University, kasus konfirmasi harian di Indonesia sebesar 4,60 kasus per 1 juta penduduk, lebih baik dibandingkan negara lain.

Di Singapura 541,9 kasus, Malaysia 277,7 kasus, Filipina 95,5 kasus, dan di Eropa, Inggris mencapai 525,3 kasus per 1 juta penduduk. "Terlihat dari data NIKKEI Covid-19 Recovery Index, peringkat Indonesia per 6 Oktober 2021 menjadi ranking 54 membaik dari posisi di 31 Juli yaitu ranking 114 dan posisi 31 Agustus ranking 92," ujar Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam rilis.

Airlangga menyebut, posisi peringkat ini juga lebih baik dari semua negara Asean lainnya, seperti Singapura di peringkat 70, Malaysia peringkat 102, dan Thailand ranking 109. Apabila dilihat situasi jumlah kasus Covid-19 per pulau (kelompok provinsi), dari recovery rate (RR), case fatality rate (CFR) dan kasus aktif (penurunan sejak 9 Agustus awal penerapan PPKM darurat level 4), hasil evaluasi per 10 Oktober 2021 yakni sebagai berikut:

 

  • Sumatra: RR = 95,55% dan CFR= 3,56%, dengan penurunan -94,10%.
  • Nusa Tenggara: RR = 96,99% dan CFR = 2,34% dengan penurunan -95,26%.
  • Kalimantan: RR = 95,90% dan CFR = 3,16% dengan penurunan -93,18%.
  • Sulawesi: RR = 96,05% dan CFR = 2,63% dengan penurunan -90,90%.
  • Maluku dan Papua: RR = 95,75% dan CFR = 1,75% dengan penurunan -88,86%.

 

Sementara, persentase recovery rate (RR) nasional adalah 96,05% dan case fatality rate (CFR) nasional sebesar 3,37%. Kasus aktif secara nasional menurun -94,55%.

Dalam jangka waktu seminggu ini, dari 27 provinsi di luar Jawa-Bali, tidak ada provinsi yang masuk level 4, kemudian 3 provinsi di level 3. Ada 22 provinsi di level 2, serta 2 provinsi berhasil di level 1 yakni Kepulauan Riau dan NTB.

Secara umum, asesmen situasi pandemi di luar Jawa-Bali menunjukkan perbaikan signifikan dari minggu ke minggu. Terjadinya penurunan level untuk 2 provinsi, yaitu Kepulauan Bangka Belitung yang turun dari Level 3 ke Level 2 dan NTB turun dari level 2 ke level 1.

Dari sisi indikator transmisi komunitas alias laju penularan dari 27 provinsi luar Jawa-Bali, terdapat 3 provinsi di level TK-2. Sedangkan selebihnya sebanyak 24 provinsi sudah berada di level TK-1.

Kalau dilihat di tingkat kabupaten/kota di luar Jawa dan Bali, terdapat 1 kabupaten/kota di level 4, ada 38 kabupaten/kota di level 3, sebanyak 278 kabupaten/kota di level 2 dan terjadi peningkatan kabupaten/kota di level 1 menjadi sebanyak 69 kabupaten/kota dari minggu lalu sebanyak 52 kabupaten/kota di Level 1.

Sementara itu ada satu kabupaten/kota yang di Level 4 yakni Kota Sabang yang disebabkan adanya peningkatan jumlah kematian dalam beberapa hari terakhir ini, yaitu menjadi di atas 5 kasus per hari. Namun demikian, indikator transmisi komunitas yang lain di Kota Sabang sangat bagus. Kasus konfirmasi di level TK-1, dan rawat inap juga di level TK-1.

Perkembangan indikator Covid-19 di 6 kabupaten/kota yang menerapkan PPKM Level 4 di Luar Jawa-Bali pada periode ini, dibandingkan pada saat awal PPKM periode ini (5 Oktober), terjadi perbaikan situasi. Di mana terdapat 2 kabupaten/kota yang mengalami penurunan level (perbaikan) dari Level 3 ke Level 2, yaitu Kota Padang dan Kota Banjarmasin, dan 5 kabupaten/kota mengalami penurunan positivity rate yakni Pidie, Bangka, Kota Padang, Bulungan, dan Kota Tarakan.

Per 9 Oktober 2021, tingkat vaksinasi di 6 kabupaten/kota yang memberlakukan PPKM Level 4 ini, terdapat 4 kabupaten/kota masih di bawah rata-rata vaksinasi dosis pertama nasional 48% dan 4 kabupaten/kota di bawah rata-rata vaksinasi lansia tingkat nasional (32,74%).

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari

Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber Indonesia.go.id.