VAKSIN COVID-19
  Pekerja membongkar muat vaksin COVID-19 Moderna saat tiba di Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Minggu (11/7/2021). Sebanyak tiga juta dosis vaksin COVID-19 produksi Moderna dari Amerika Serikat tiba di Bio Farma untuk didistribusikan guna percepatan vaksinasi masyarakat Indonesia. ANTARA FOTO/Novrian Arbi

Dosis Ketiga dengan Vaksin Moderna

  •   Rabu, 21 Juli 2021 | 13:59 WIB
  •   Oleh : Administrator

Boosting dengan vaksin Moderna telah bergulir, khusus untuk nakes yang menghadapi risiko tinggi. Prioritas pertama di Jawa-Bali. Sekitar 35 persen dokter yang gugur sudah divaksin.

Berada di garis depan dalam memerangi amukan Covid-19, tenaga kesehatan (nakes) menghadapi risiko infeksi yang paling besar. Apalagi setelah varian Delta asal India masuk dan mendominasi kasus infeksi sejak akhir Mei 2021. Varian Delta ini terbukti sangat menular. Kasus positif Covid-19 di Indonesia tiba-tiba naik berlipat kali.

Dua dosis vaksin Sinovac yang disuntikkan kepada para nakes, termasuk dokter, sejak Februari 2021 ternyata tak sepenuhnya bisa melindungi mereka. Banyak dari mereka yang terinfeksi, akibat paparan virus dosis tinggi di tempat-tempat pelayanan kesehatan seperti rumah sakit atau puskesmas. Sebagian mereka bahkan meninggal.

Penguatan antibodi perlu dilakukan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun menggelar program vaksinasi  dosis ketiga dengan vaksin Moderna produk Amerika Serikat (AS) untuk nakes. “Seperti vaksin berbasis m-RNA yang lain, vaksin Moderna itu punya efikasi yang tinggi. Sudah terbukti di Amerika vaksin ini bisa membendung laju penularan Covid-19,” ujar Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.

Sebanyak 3 juta dosis (dalam kemasan jadi) vaksin Moderna telah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, 11 Juli lalu. Vaksin yang diproduksi  di Massachussetts, Amerika, itu juga telah mengantungi izin edar darurat atau emergency use authorization (EUA) dari Badan Pengawasan Obat dan  Makanan (BPOM). Maka, tanpa membuang waktu, Moderna disuntikkan pada para nakes sebagai booster (penguat) vaksin yang telah diberikan sebelumnya. Targetnya 1,47 juta nakes dan sesegera mungkin.

Penyuntikan perdana dilakukan di Rumah Sakit Pusat Ciptomangunkusomo, Jakarta, pada 16 Juli 2021. Disaksikan Menkes Budi Gunadi, 50 dokter senior, sebagian guru besar Fakultas Kedokteran  dari UI, vaksinasi dilakukan. “Memberikan booster untuk vaksin yang berbeda itu tidak masalah, aman, dan sudah biasa dilakukan. Tujuannya menambah antibodi  yang amat diperlukan di tengah gelombang kedua  pandemi ini,” papar Menkes Budi Gunadi.

Moderna adalah salah satu dari enam vaksin yang mendapat rekomendasi dari WHO, dan masuk dalam daftar yang telah menerima izin penggunaan darurat, bersama Pfizer, AstraZeneca, Johnson and Johnson, Sinopharm, dan Sinovac. Vaksin yang termasuk ke dalam emergency use listing (EUL) WHO itu sebagian akan didistribusikan ke seluruh dunia sebagai vaksin gratis dengan skema Covax Facility. Vaksin Moderna yang kini beredar di Indonesia itu juga datang lewat skema Covax Facility, total 4,5 juta dosis.

Reputasi Moderna cukup bagus. Lolos dalam uji klinis dengan level efikasi (kemanjuran) 92 persen, Moderna cukup baik reputasinya di lapangan. Ia dianggap cukup ampuh menahan gempuran dari varian Delta B-1617.2 yang kini merajalela di Indonesia. Lonjakan kasus baru Covid-19 di AS yang melanda belakangan ini, bahkan mencapai kasus positif harian 55 ribu, pada Sabtu, 19 Juli, umumnya menimpa warga yang belum divaksin. Efektivitas Moderna cukup teruji. 

Tak heran bila Menkes Budi Gunadi sangat berharap dengan vaksin asal AS ini. “Para nakes kita itu dalam tekanan akibat gelombang kedua pandemi ini. Dengan suntikan vaksin dosis ketiga ini, kita ingin memberikan perlindungan yang maksimal,” katanya dalam konferensi pers virtual pekan lalu. Prioritas, katanya, untuk nakes di Jawa dan Bali yang mengalami tekanan ekstra tinggi.

Tekanan pandemi membuat banyak nakes menjadi korban. Laporan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebutkan, 545 dokter meninggal akibat Covid-19. Sebagian besar dokter umum. Dari jumlah itu, 114 meninggal pada kurun 1--17 Juli 2021. Angka itu berlipat lebih dua kali dibanding pada Juni yang tercatat 52 orang. Kelelahan akibat melayani pasien yang membanjir, dalam lingkungan yang terpapar virus penyebab Covid-19 dosis tinggi, membuat para dokter itu lebih mudah terinfeksi.

Korban dari kalangan nakes nondokter juga tak sedikit. Sampai akhir Juni 2021 tercatat 339 perawat, 166 bidan, 32 tenaga ahli lab medis, meninggal oleh virus yang sama. Sejumlah korban lainnya datang dari kalangan apoteker, tenaga ahli farmasi, hingga petugas mobil ambulans. Dari 545 dokter yang meninggal selama pandemi, sekitar 35 persen gugur dalam keadaan sudah tervaksin.

Tentu, tak berarti bahwa vaksinasi yang pernah dijalani sia-sia. Dalam sebuah keterangan persnya, pada 7 Juli 2021, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan bahwa vaksinasi (Sinovac) cukup mengurangi angka kematian. “Menurut data Kemenkes, 90 persen yang meninggal itu tidak mau atau belum divaksin,” katanya.

Lebih jauh, mengutip hasil laporan Tim Peneliti Efektivitas Vaksin Kemenkes, Mei 2021, Erick Thohir juga menyebutkan bahwa risiko kematian nakes yang sudah divaksin lengkap berkurang 98 persen. Namun boleh jadi, situasi berbeda setelah varian Delta asal India itu masuk dan mendominasi kasus infeksi.

Varian Delta ini terbukti sangat menular. Kasus positif Covid-19 di Indonesia tiba-tiba naik berlipat kali, membentuk kurva terjal, eksponensial, yang pada puncaknya di pekan lalu membukukan kasus harian sampai 54 ribu lebih. Pasien membanjir, fasilitas pelayanan kesehatan kewalahan dan korban pun berjatuhan.

Melewati pertengahan Juli, kasus harian mulai menyusut. Tren penurunan terlihat. Antrean pasien ke rumah sakit mulai berkurang. Namun, gelombang kedua pandemi ini masih menyisakan sekitar setengah juta kasus aktif. Mereka semua adalah pasien yang harus ditangani para nakes.

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari