COVID-19
  Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada petugas pelayan publik dalam vaksinasi massal di Gedung Islamic Center, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Selasa (6/4/2021). ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

Diplomasi dan Skala Prioritas Kunci Kelancaran Vaksin

  •   Rabu, 7 April 2021 | 07:40 WIB
  •   Oleh : Administrator

Gelombang ketiga wabah virus SARS COV-2 terjadi di sejumlah negara di dunia. Beberapa negara penghasil tak lepas dari hantaman gelombang itu. Alhasil, laju rantai pasok vaksin ke sejumlah negara, termasuk ke Indonesia, pun tersendat.

Hingga 15 bulan berselang sejak pertama ditemukan di Wuhan, Tiongkok, berbagai upaya yang dilakukan banyak pihak untuk memupus pandemi Covid-19 belumlah membuahkan hasil yang maksimal. Kendati ada beberapa wilayah di belahan dunia yang berhasil menekan angka penularan sampai ke titik nol, di banyak kawasan tren penularannya justru meningkat.

Oleh banyak ahli, peningkatan angka penularan di sejumlah negara menjadi pertanda tengah terjadinya gelombang ketiga dari wabah virus mutan tersebut. Padahal di satu sisi, banyak pula otoritas negeri yang telah menggelar vaksinasi massal demi menghalau laju penularan virus itu. 

Sejauh ini, data dari Worldometers mencatat, hingga Sabtu (27/3/2021) pagi, virus sudah menginfeksi 126.42 juta orang di seluruh dunia. Virus itu pun telah membuat 2,77 juta nyawa melayang. Walaupun dari catatan yang ada juga menunjukkan bahwa kasus sembuh total mencapai 101.97 juta orang. Infeksi terbesar terjadi di AS sebanyak 30,78 juta orang, dengan kasus aktif 7,03 juta.

Beberapa negara yang sebelumnya sukses menekan kasus infeksi sehingga tak ada lagi transmisi lokal, kini bahkan kembali mencatatkan adanya kenaikan kasus. Itu pulalah sebabnya, beberapa di antara negara-negara dunia memilih kembali melakukan lockdown. Sejumlah negara yang diketahui menghadapi lonjakan kasus baru virus corona mutan itu antara lain adalah Prancis dan Jerman.

Di Prancis, Perdana Menteri Prancis Jean Castex mengumumkan bahwa lockdown terbatas kembali diberlakukan selama sebulan di Paris dan beberapa wilayah lain. Hal itu untuk menekan kasus corona yang kembali melonjak.

BBC melaporkan, dalam lockdown terbatas itu, bisnis yang tidak penting akan ditutup dan pergerakan di luar akan dibatasi di daerah yang terkena dampak. Namun, sekolah akan tetap buka dan olahraga di luar ruangan diperbolehkan hingga 10 kilometer dari rumah. "Kami mengadopsi cara ketiga. Yakni, cara yang memungkinkan untuk pengereman (epidemi) tanpa mengunci (orang)," kata Castex, Kamis (18/3/2021). Tercatat, sekitar 1.200 orang dalam perawatan intensif, akibat gelombang ketiga virus corona di Prancis.

Wilayah lain yang terpengaruh akibat lockdown terbatas itu utamanya mencakup wilayah Hauts-de-France di timur Laut Prancis yang meliputi Kota Lille. Sementara itu di Jerman, pemerintahan yang berkuasa memutuskan untuk memperpanjang kebijakan karantina atau lockdown seiring meningkatnya kasus Covid-19. Masa karantina di negara itu diperpanjang hingga 18 April dengan penerapan yang ketat saat libur Paskah dari 1 April hingga 5 April.

Kanselir Jerman Angela Merkel mengingatkan, Jerman perlu menghentikan pertumbuhan eksponensial dari gelombang ketiga virus corona yang melanda negaranya. "Kita berada dalam situasi yang sangat, sangat serius akibat penyebaran varian baru virus corona," ujar Merkel dalam konferensi pers, dikutip DW.

Kebijakan karantina yang diperketat ini mengatur pembatasan ruang gerak masyarakat terutama saat Paskah. Seperti menggelar perayaan di gereja secara daring, pertemuan keluarga hanya dibatasi maksimal lima orang, larangan pertemuan publik, penutupan toko selama libur Paskah. Selain itu, penduduk yang berlibur ke luar negeri juga harus mengikuti tes Covid-19 sebelum kembali ke Jerman.

Negara lain yang ditengarai juga tengah menghadapi gelombang ketiga adalah Pakistan. Dikutip dari laman Gulf News, kondisi itu terlihat dari tingkat positivitas kasus infeksi yang terus naik. Pada Kamis (25/3/2021), tercatat ada 3.946 orang yang dinyatakan positif virus corona dalam sehari. Penambahan itu merupakan yang tertinggi kedua dari yang tercatat pada Juli 2020, yakni sebanyak 4.432 orang dalam sehari.

Pusat Komando Operasi Pandemi Covid-19 Pakistan (NCOC) bahkan melaporkan, dalam 24 jam terakhir tercatat ada 38.858 spesimen tes corona dan sebanyak 3.946 di antaranya positif. Hal itu membuat jumlah kasus infeksi corona di Pakistan mencapai 640.988 orang, dengan sebanyak 14.028 orang di antaranya meninggal, dan terbanyak terjadi di Provinsi Punjab, dengan angka kematian akibat Covid-19 sebesar 6.099 orang.

Di Belgia, gelombang ketiga pandemi juga tengah menghadang. Kini tercatat jumlah kasus positif mencapai 842.775 orang, di mana 22.763 orang meninggal dunia. Akibat gelombang ketiga, Belgia memberlakukan penguncian baru. Sekolah, toko-toko yang tidak menjual makanan, juga salon, akan ditutup selama empat minggu ke depan.

Perdana Menteri Belgia Alexander De Croo mengatakan, varian virus corona asal Inggris telah menyebabkan jumlah pasien Covid-19 yang menjalani perawatan di rumah-rumah sakit di negeri itu melonjak."Kami menghadapi gelombang ketiga. Kami akan mematahkannya, seperti yang kami lakukan sebelumnya. Kami telah memutuskan sakit jangka pendek. Ini keputusan yang berat untuk diambil, tetapi jika kita tidak melakukannya, konsekuensinya akan lebih serius," kata De Croo dikutipReuters.

Dampak Gelombang Ketiga

Terjadinya gelombang ketiga wabah corona di sejumlah negeri tidak saja membawa dampak terhadap ancaman penularan baru, melainkan juga memberi pengaruh pada kelancaran distribusi vaksin. Diketahui, sejumlah negara produsen vaksin terpaksa mengambil keputusan sulit dengan mengembargo vaksin produksinya. Mereka memilih mengarahkan vaksin-vaksin produksinya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dan untuk sementara, mereka melarang ekspor.

Kontan, hal tersebut mempengaruhi kesiapan vaksinasi di ratusan negara di dunia lainnya, termasuk Indonesia. Seperti dirincikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, jumlah vaksin yang semula disiapkan untuk Maret dan April, masing-masing 15 juta dosis atau total 30 juta dosis, hanya bisa dipenuhi sebanyak 20 juta dosis. “Perlu kita atur kembali, sehingga kenaikannya tidak secepat sebelumnya. Karena memang vaksinnya berkurang suplainya,” kata Budi.

Pemerintah Indonesia memang terus melakukan upaya-upaya demi bisa memenuhi kebutuhan vaksinasi Covid-19. Itulah sebabnya, Budi berharap agar segera dapat dilakukan negosiasi kembali dengan negara-negara produsen vaksin. “Mudah-mudahan Mei sudah bisa kembali normal. Sehingga kita bisa melakukan vaksinasi dengan rate seperti sebelumnya yang terus meningkat,” ucap Budi.

Diketahui, usai pertemuan dengan Menlu Tiongkok Wang Yi, di Tiongkok, pada Jumat (2/4/2021), Menlu Retno Marsudi mengatakan bahwa pihaknya menekankan pentingnya pemenuhan jadwal penyediaan vaksin yang telah disepakati bersama dengan perusahaan-perusahaan vaksin Tiongkok, yang telah menandatangani komitmen dengan Indonesia. Lebih dari itu, Menlu Retno juga melakukan pembahasan kembali kerja sama vaksin, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Di mana jika kerja sama jangka pendek dimaksud adalah komitmen Tiongkok mengirimkan vaksin ke Indonesia sesuai jadwal. Sedangkan, kerja sama jangka panjang adalah rencana Indonesia menjadi hub vaksin bagi Asia Tenggara.

Sebelumnya, PT Bio Farma (Persero) menyebut adanya kemungkinan suplai vaksin Covid-19 tersendat. Pasalnya, India yang merupakan produsen vaksin terbesar di dunia melaporkan kenaikan positivity rate virus corona. Dengan demikian negara itu akan mendahulukan kebutuhan dalam negerinya. "Kami sedang berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri agar bisa melakukan diplomasi, bagaimana seandainya suplai ke Indonesia yang sudah terjadwal bisa dilakukan sesuai jadwal," kata Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin (29/3/2021).

Honesti menjelaskan suplai vaksin dari fasilitas Covax-GAVI tersebut dinilai krusial terhadap pasokan vaksin di Indonesia dan memengaruhi laju kecepatan vaksinasi di negara ini. "Kita tidak mau terganggu karena kecepatan vaksinasi menunjukkan sekarang yang dilakukan pemerintah menunjukkan kenaikan. Tadinya 100 ribu-200 ribu per hari, sekarang menuju 500 ribu vaksinasi per hari," katanya.

Lansia Diprioritaskan

Terkait dengan keterbatasan suplai vaksin di tanah air, Budi menjelaskan, prioritas penerima vaksinasi akan lebih diperjelas. Prioritas itu, sambung dia, diatur berdasarkan risiko keterpaparan. Data yang ada di Kementerian Kesehatan menunjukkan, dari 1,5 juta yang terpapar, sebanyak 10% nya Lansia di atas 60 tahun. Tapi dari 100% yang wafat, 50%-nya adalah lansia.“Jadi kelihatan sekali bahwa teman-teman kita di atas 60 tahun itu berisiko tinggi. Kalau kita lihat yang masuk rumah sakit yang wafat untuk non-lansia hanya sekitar 10% dari total yang masuk. Sedangkan kalau lansia hampir tiga kali lipat,” tutur Budi.

Oleh karena itu pulalah, dengan adanya keterbatasan vaksin pada April ini, Budi menegaskan, vaksinasi akan diarahkan untuk lansia.

 

 

Penulis: Ratna Nuraini
Redaktur: Elvira Inda Sari