KESEHATAN
  RS J Leimena, Ambon. KEMENKES.GO.ID

RSUP J Leimena, Rujukan Utama Masyarakat di Timur Indonesia

  •   Selasa, 6 April 2021 | 08:24 WIB
  •   Oleh : Administrator

Keandalan dan kecanggihan peralatan medis pada unit pelayanan penunjang radiologi merupakan yang terlengkap saat ini bila dibandingkan dengan RS lainnya di wilayah timur.

Setelah 75 tahun merdeka, akhirnya masyarakat di kawasan timur Indonesia memiliki Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) di Ambon, ibu kota Provinsi Maluku. RSUP dr Johannes Leimena, adalah sebuah rumah sakit umum pusat kelas B yang mulai beroperasi sejak akhir 2019.

Kendati sudah melakukan soft launching sejak Oktober 2019, Presiden RI Joko Widodo baru meresmikan operasional RSUP dr J Leimena, Ambon, pada Kamis (25/3/2020). Kepala Negara berharap, kehadiran RSUP dr J Leimena akan memberikan kualitas layanan kesehatan yang prima untuk masyarakat Indonesia bagian timur.

Fasilitas rumah sakit ini merupakan rumah sakit umum pusat ke-34 atau RS unit pelaksana teknis (UPT) vertikal yang dikelola Kementerian Kesehatan.Pengoperasian RSUP dr J Leimena sekaligus merupakan rumah sakit rujukan tertinggi di Maluku.

Nama rumah sakit ini berasal dari dr Johannes Leimena, pahlawan nasional dari Maluku yang memangku jabatan menteri kesehatan selama 21 tahun berturut-turut.Dulu, masyarakat Maluku dan Maluku Utara, khususnya di kepulauan, ketika ada penyakit yang membutuhkan penanganan medis khusus sampai harus merujuk ke RSUP Wahidin Sudirohusodo di Makassar, Sulawesi Selatan, atau Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Saat ini, terdapat 33 RS UPT vertikal yang tersebar di kawasan barat dan timur Indonesia. Namun demikian, saat ini, hanya ada empat RS UPT vertikal di Indonesia timur, dan keempatnya terletak di Pulau Sulawesi. Keempat rumah sakit tersebut adalah RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar, RS Kusta Tadjuddin Chalid, Makassar, RSUP Prof dr RD Kandou, Manado, dan RSUP Ratatotok, Minahasa Tenggara.

Saat ini, RSUP dr J Leimena telah memiliki sumber daya manusia (SDM) sebanyak 461 orang tenaga kesehatan. Di antaranya, 12 dokter spesialis, 14 dokter umum, dan 102 perawat. Untuk SDM, sejak 2020, RSUP dr Johannes Leimena menerima 138 CPNS baru. Mereka semua sudah bertugas di rumah sakit tersebut.

Sejak ada kasus terkonfirmasi corona pada Mei 2020, RSUP ini telah turut membantu upaya memutus mata rantai penularan penyakit Covid-19. Selain pelayanan untuk pasien Covid-19, RSUP dr Johannes Leimena Ambon juga telah membuka layanan untuk pelayanan spesialistik di poliklinik rawat jalan, seperti poliklinik anak, penyakit dalam, kebidanan dan kandungan, bedah, bedah orthopedi, poliklinik jantung, saraf, dan poliklinik mata.

Semua pelayanan dilakukan dengan memanfaatkan ketersediaan peralatan medis yang lengkap pada semua poliklinik yang tersedia, misalnya, pada poliklinik jantung tersedia alat Echocardiography dan beberapa peralatan canggih lainnya. Selain itu sudah beroperasional unit pelayanan UGD hingga perawatan di unit intensif.

Keandalan dan kecanggihan peralatan medis pada unit pelayanan penunjang radiologi merupakan yang terlengkap saat ini bila dibandingkan dengan RS lainnya di wilayah timur. Saat ini tersedia unit MRI 1,5 Tesla, CT-Scan 128 slice, mammografi, C-Arm, dan peralatan diagnostik lainnya yang sudah beroperasi.

Masyarakat Maluku khususnya dan kawasan Indonesia timur, pada umumnya, diharapkan dapat memanfaatkan keberadaan RSUP ini. RSUP Leimena menjadi solusi integrasi layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat di kawasan timur Indonesia.

Layanan Kesehatan Masyarakat

Dalam program pembangunan yang dicanangkan dalam periode pertama maupun periode kedua pemerintahan Joko Widodo, akses dan kualitas layanan kesehatan di wilayah timur Indonesia menjadi prioritas nasional. Sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, Kementerian Kesehatan merencanakan pembangunan rumah sakit vertikal di Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Meskipun demikian, di antara ketiganya, Malukulah yang paling siap. Pada 2017, pembangunan dimulai di lahan milik Pemerintah Provinsi Maluku seluas 4,77 hektare dengan potensi perluasan hingga 8 hektare. Anggaran yang dikeluarkan untuk membangun RSUP dr J Leimena mencapai Rp308 miliar.

Adapun untuk RSUP Kupang di NTT juga sudah dalam proses konstruksi sejak dicanangkan pembangunan fisiknya pada akhir Desember 2020 silam. Rumah sakit ini memiliki luas lahan sebesar 18 hektare dan pembangunannya diperkirakan menelan biaya sebesar Rp350,2 miliar.

Proyek RSUP Kupang ini diperkirakan rampung pada Juni 2022 mendatang. Sementara itu, pembangunan RSUP di Wamena, Papua, masih dalam tahap pembebasan lahan.

Program peningkatan kualitas kesehatan nasional bukan sekadar membangun rumah sakit. Melainkan juga mencakup berbagai pelayanan kesehatan esensial termasuk pelayanan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif dan paliatif. Salah satunya dengan melakukan akreditasi puskesmas khususnya di wilayah terluar seperti timur Indonesia.

Akreditasi puskesmas difokuskan kepada upaya promotif, preventif, dan program prioritas. Harapannya dengan berfokus kepada upaya promotif-preventif dapat lebih efisien dalam pembiayaan kesehatan dan mempercepat capaian target pembangunan kesehatan. Merujuk data Kementerian Kesehatan tahun 2019 terdapat 10.062 puskesmas di Indonesia. Dari angka tersebut sebanyak 909 puskesmas belum terakreditasi.

Selama 2015-2019, Kemenkes telah membangun 629 puskesmas baru dan 62 rumah sakit pertama. Sebagian fasilitas kesehatan tersebut dibangun di daerah perbatasan dan terluar Nusantara seperti Maluku, Malut, Sulut, NTT, dan Papua. Pemerataan faskes dan akses layanan kesehatan berkualitas menjadi prioritas di kawasan ini.

Pembenahan fasilitas layanan kesehatan pertama, seperti puskesmas, diarahkan untuk menekan angka kuratif sehingga semua pasien tidak perlu dirujuk sampai ke RSUP vertikal.

 

 

Penulis: Kristantyo Wisnubroto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari