KEANEKARAGAMAN HAYATI
  Raja Ampat, salah satu kawasan taman bumi yang sedang diajukan ke UNESCO. Dikembangkan untuk dikelola dan dikembangkan nilai ekonominya. AGODA

Mengembangkan Taman Bumi untuk Kesejahteraan Masyarakat

  •   Sabtu, 1 Januari 2022 | 09:51 WIB
  •   Oleh : Administrator

Pemerintah menargetkan hingga 2024 akhir ada 12 taman bumi yang diakui UNESCO. Indonesia juga memiliki potensi pengembangan 110 kawasan warisan geologi untuk dijadikan taman bum

Indonesia merupakan negara kepulauan dan menjadi bagian dari daerah Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Kawasan ini membentang sepanjang 25.000 mil dan mencakup 450 gunung api sejak ujung selatan Amerika Selatan, melintasi sepanjang pantai Amerika Utara hingga ke Selat Bering. Kemudian dari Jepang hingga ke Selandia Baru. Jika diamati sekilas, bentuknya mirip tapal kuda.

Negara kita juga menjadi pertemuan dari tiga lempeng tektonik, yaitu Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Oleh karena itu terdapat sejumlah kawasan dengan kekayaan warisan geologi (geoheritage) dan berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai taman bumi atau geopark dan tersebar di penjuru negeri. Sebanyak enam di antaranya sudah menjadi taman bumi global setelah diakui oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Keenamnya adalah Geopark Batur, Gunung Sewu, Ciletuh-Pelabuhanratu, Rinjani, Kaldera Danau Toba, serta Belitung. Indonesia pun masih memiliki 12 taman bumi nasional dan siap untuk diajukan kepada UNESCO. Misalnya Taman Bumi Nasional Tambora, Raja Ampat, Maros Pangkep, Pongkor, Karang Sambung-Karangbolong, Merangin, Meratus, Silokek, Ngarai Sianok-Maninjau, Sawahlunto, Natuna, dan Banyuwangi.

Indonesia juga mempunyai sekitar 110 lokasi kawasan geologi lainnya yang berpotensi dijadikan taman bumi. Taman bumi adalah pengembangan dari dua konsep kawasan tetapan UNESCO sebelumnya yaitu cagar biosfer dan warisan dunia. Ini menjadi konsep holistik dengan memadukan pelestarian dan pengelolaan tiga keragaman alam, yaitu keragaman geologi (geodiversity), keragaman hayati (biodiversity), dan keragaman budaya (cultural diversity).

Pemerintah sendiri hingga akhir 2024 berencana untuk membuat 12 taman bumi global dan akan dikembangkan untuk destinasi pariwisata. Pengembangannya diharapkan ikut mendorong perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

Warisan alam itu juga perlu dijaga, dilindungi, dan dimanfaatkan dengan baik. Itu dilakukan melalui konservasi kawasan dan perlindungan unsur-unsur geologi yang masih utuh agar tidak rusak.

Demikian dikatakan Presiden Joko Widodo, ketika membuka Konferensi Nasional Geopark Indonesia II di Istana Negara, Jakarta, Senin (22/11/2021). "Kita perlu menjaga warisan geologi serta nilai-nilai di dalamnya; arkeologi, ekologi, sejarah, dan budaya agar bisa terus diwariskan ke generasi selanjutnya,” ucap Presiden Jokowi.

Sebagai sebuah destinasi wisata, pengembangan taman bumi akan mengacu pada 17 Prinsip Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) 2016--2030 yang telah disepakati dalam Sidang Umum PBB di New York, September 2015. Artinya, kata Presiden Jokowi, kekayaan alam ini tak boleh dirusak dan dieksploitasi secara berlebihan.

Kegiatan ekonomi dan konservasi alam mesti seimbang. Apabila dimanfaatkan dan dikelola dengan baik, taman bumi dapat menjadi destinasi wisata domestik dan internasional.

Menurut Presiden, kunci utama keberhasilan pengembangan geopark ada pada perbaikan tata kelola dan harus semakin baik. Juga perlu melibatkan para pegiat taman bumi, akademisi, dan masyarakat sekitar untuk ambil bagian dalam pelestarian lingkungan. Ini dilakukan agar masyarakat mendapat manfaat untuk kesejahteraan mereka.

Indonesia saat ini berada di urutan kedelapan dari 44 negara dengan taman bumi global UNESCO terbanyak di dunia. UNESCO mencatat bahwa Tiongkok memiliki taman bumi global terbanyak, yakni 37 buah. Pada 2016, ke-37 taman bumi global tadi telah mampu menarik minat 21 juta turis asing.

Hal serupa juga dialami Spanyol, pemilik 12 taman bumi global dan sanggup mendatangkan 19 juta pengunjung per tahunnya. Atau Jepang dengan sembilan taman bumi globalnya telah ditengok oleh 6,5 juta orang per tahun. Pada 2017, jaringan geopark global telah menjadi mitra penting dari Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO).

 

Pengembangan Taman Bumi

Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa, pengakuan UNESCO untuk taman bumi global dari Indonesia bukanlah tujuan akhir. Pengakuan itu hendaknya dijadikan pemicu agar taman bumi dikelola dengan baik dan berkelas dunia.

Pengembangan taman bumi secara nasional mengacu kepada tiga pilar meliputi konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi masyarakat seperti tertuang di dalam Peraturan Presiden nomor 9 tahun 2019 tentang Pengembangan Taman Bumi (Geopark). Bappenas juga telah menyusun Rencana Aksi Nasional Pengembangan Geopark Indonesia 2021--2025 lewat Peraturan Menteri nomor 15 tahun 2020 sesuai Pasal 21 PP nomor 9 tahun 2019.

Dalam RAN itu juga disebutkan adanya rencana induk pengembangan taman bumi untuk jangka waktu 10 tahun. Ini dengan melibatkan kepala daerah dan pihak Komite Nasional Geopark Indonesia untuk kawasan taman bumi yang meliputi lebih dari dua negara. KNGI dibentuk sebagai hasil kesepakatan dalam Konferensi Nasional Geopark Indonesia pertama yang diadakan di Bappenas, 12 Juli 2018.

Ada 10 sasaran utama untuk percepatan pengembangan taman bumi berdasarkan RAN Geopark 2021--2025 selain menambah jumlahnya secara global versi UNESCO dan taman bumi nasional. Salah satunya adalah terjadinya peningkatan jumlah kunjungan wisatawan domestik ke lokasi taman bumi hingga 15 juta orang secara akumulatif.

Menurut Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, melestarikan dan memanfaatkan warisan geologi merupakan tantangan sekaligus peluang. Ketua KNGI itu mengatakan, semua pihak mesti berkolaborasi, baik pemerintah, swasta, akademisi, peneliti, komunitas, maupun masyarakat.

Sementara itu, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Itje Chodijah mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan taman bumi dan merupakan negara megabiodiversitas di bidang budaya, geologi, dan biologi. Demikian dikatakannya dalam sebuah diskusi mengenai taman bumi yang diadakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi di Tangerang, Banten, akhir September 2021 lalu. Diskusi ini diikuti oleh 85 orang pemangku kepentingan taman bumi di Indonesia.

Hal serupa juga dikatakan Dewan Pakar KNGI Mega Fatimah Rosana. Menurutnya, untuk menjadi taman bumi berkelas dunia harus memenuhi empat dasar pengembangan. Yaitu memiliki warisan geologi yang bernilai internasional, pengelolaan oleh sebuah badan yang berbadan hukum, memiliki visi, dan berjejaring. Tantangan paling signifikan dalam pelaksanaan pariwisata berkelanjutan adalah meningkatkan kualitas pekerjaan pariwisata.

Selain itu, melestarikan sumber daya alam dan budaya, membatasi dampak negatif di daerah tujuan wisata, termasuk pemanfaatan sumber daya alam dan produksi limbah. Lalu mempromosikan kesejahteraan masyarakat setempat, menggunakan kembali permintaan musiman. "Ada juga kegiatan membatasi dampak lingkungan dari transportasi terkait pariwisata, serta membuat pariwisata yang dapat diakses oleh semua orang,” ujar Mega.

General Manager UNESCO Global Geopark (UGGp) Gunung Sewu sekaligus Ketua Jaringan Geopark Indonesia, Budi Martono empat dasar itu direalisasikan oleh pihaknya ke dalam beragam praktik dengan berorientasi pada pencapaian taman bumi berkelas dunia.

Untuk membangkitkan pariwisata nasional, salah satunya adalah mewujudkan taman bumi nasional menjadi global diakui UNESCO, karena akan diminati turis dunia. Oleh sebab itu, seluruh pengelola taman bumi nasional termasuk di dalamnya para kepala daerah di mana warisan geologi itu berada harus menyiapkan diri untuk menjadi berkelas dunia.

 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari