PON XX PAPUA
  Penjaga gawang Papua Adzib Al Hakim Arsyad meluapkan kegembiraanya usai mengalahkan tim Kalimantan Timur saat pertandingan Semi Final Sepak Bola putra PON Papua di Stadion Mandala, Kota Jayapura, Papua, Selasa (12/10/2021). Papua berhasil mengalahkan Kalimantan Timur dengan skor 5-1. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj.

Jarak Sabang-Merauke hanya Sejengkal Tangan di Mandala

  •   Kamis, 14 Oktober 2021 | 13:10 WIB
  •   Oleh : Administrator

Aceh dan Papua terakhir kali bersua di final sepak bola saat PON 1993 di Jakarta tatkala Pasukan Tanah Rencong bertekuk lutut atas Laskar Bumi Cenderawasih dengan skor 3-6.

Indonesia adalah sejauh Sabang hingga Merauke, selebar Miangas sampai Pulau Rote. Tapi apa jadinya jika Sabang dan Merauke kemudian makin didekatkan hingga sejengkal tangan? Tentu akan menghadirkan sensasi luar biasa. Karena ini cerita soal keseruan yang akan terjadi pada final cabang paling populer di Indonesia yakni sepak bola.

Di babak pamungkas itu berjumpa dua tim tangguh, Papua dengan permainan teknik tinggi dan Aceh melalui stamina bermain di atas rata-rata. Aceh adalah provinsi di mana terletak Kota Sabang sebagai titik paling barat dari Indonesia dan Papua menjadi pemilik Merauke, ujung paling timur Nusantara. Keduanya akan dipersatukan pada laga pemuncak sepak bola Pekan Olahraga Nasional 2021 di Stadion Mandala, Kota Jayapura, Kamis (14/10/2021).

Mandala adalah stadion kebanggaan masyarakat Papua dan kandang tim sepak bola hebat Indonesia dari timur, Persipura Jayapura. Di stadion tua buatan tahun 1950 ini sejumlah fakta menarik pun bermunculan seputar laga final di Kamis (14/10/2021) sore ini, sekitar pukul 16.30 WIT. Pertandingan sore nanti sangat ditunggu karena gengsi sepak bola di PON begitu tinggi. 

Aceh dan Papua telah melewati babak penyisihan grup yang mulai digelar 27 September 2021. Mereka sukses menembus babak enam besar lalu melenggang ke semifinal. Pada babak semifinal, Papua mengalahkan Kalimantan Timur dengan skor 5-1 di Mandala, sementara Aceh menyingkirkan Jawa Timur dengan skor 2-1 di Stadion Barnabas Youwe, Kota Sentani.

Bagi kedua tim, ini bukanlah perjumpaan pertama di partai puncak sepak bola PON. Lebih tepatnya merupakan sebuah reuni dari partai serupa yang tercipta saat PON 1993 di Stadion Utama Senayan sebelum dikembalikan namanya menjadi Stadion Gelora Bung Karno. Pada laga 19 September 1993 itu, laskar Bumi Cenderawasih menghantam pasukan Bumi Rencong dengan skor 6-3.

Selain itu, duel Aceh-Papua akan mempertemukan dua maestro gelandang terbaik Indonesia, Fakhri Husaini dan Eduard Ivakdalam. Keduanya adalah langganan tim nasional Merah Putih. Fakhri banyak menghabiskan kariernya di klub Pupuk Kaltim Bontang dan Eduard adalah salah satu legenda terbaik Mutiara Hitam Persipura.

Kedua legenda terbaik Indonesia ini dipertemukan dengan status sebagai juru taktik tim tanah kelahiran masing-masing. Fakhri adalah arsitek jempolan di balik sukses tim Serambi Mekkah kembali ke laga final sejak PON 1993. Prestasi pria kelahiran Lhokseumawe, 27 Juli 1965 itu sebagai pelatih tak bisa dipandang sebelah mata.

Ia adalah juru taktik spesialis bibit-bibit muda. Dari tangan dingin pria hobi bertopi ini, dua tim Garuda Muda, U-16 dan U-19 pernah merasakan atmosfer persaingan putaran final Piala Asia. Bahkan Fakhri juga sukses membawa Bagus Kahfi dan kawan-kawan juara Piala AFF U-16, Agustus 2018 di Sidoarjo, Jawa Timur. Ini adalah pertama kalinya timnas Garuda Muda merebut prestasi di tingkat regional. Sebelum berlabuh ke Aceh, Fakhri masih sempat menukangi timnas U-19.

Tak salah jika Aceh menjatuhkan pilihan dan meminta jasa kepelatihan putra asli Aceh itu menangani bibit-bibit muda provinsi paling barat Indonesia untuk berlaga di PON 2021 yang berlokasi di ujung timur Nusantara. Sejak dilatih Fakhri, Februari 2021, tim PON Aceh yang bermaterikan pemain-pemain usia di bawah 23 tahun makin menunjukkan kualitas permainan.

Demikian halnya dengan Eduard Ivakdalam. Pelatih kelahiran Merauke, 19 Desember 1974 itu tidak kesulitan mendapatkan bibit-bibit terbaik karena tanah Papua merupakan gudang pesepak bola dengan bakat unggul. Ini dapat dilihat dari statistik pertandingan yang telah dilakukan skuad muda Papua. Mereka menjadi tim paling produktif dengan torehan 22 gol dan hanya kemasukan tiga gol dalam enam laga.   

Skuad Eduard menjadi momok bagi tim lawan. Selain membantai Kaltim dengan 5-1, Jabar pun ikut terkena getahnya. Juara bertahan PON 2016 itu dilibas Papua dengan skor meyakinkan, 1-5 saat laga pembuka penyisihan Grup A, 27 September 2021. Nasib paling apes dialami Nusa Tenggara Timur setelah tanpa ampun diterjang dengan skor sangat telak, 0-4.

Selain faktor tuan rumah dengan dukungan penuh pendukung di tanah sendiri, Papua tentu punya hasrat tinggi mengawinkan emas sepak bola yang sebelumnya telah direbut tim putri usai menaklukkan Jabar di laga final.

Begitu pula Aceh. Aura revans atas kekalahan di final PON 1993 masih begitu membekas. Fakhri paling tahu bagaimana cara membakar semangat anak-anak asuhnya untuk meredam keangkeran Stadion Mandala dan membawa pulang keping emas sepak bola PON Papua ke Tanah Rencong. Siapa pun yang menang atau kalah, Stadion Mandala adalah juaranya karena mampu mempersatukan Sabang dan Merauke dalam sejengkal tangan. Torang Bisa!

 

 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Elvira Inda Sari

Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber Indonesia.go.id.