PON XX PAPUA
  Penari menghibur penonton saat Upacara Pembukaan PON Papua di Stadion Lukas Enembe, Kompleks Olahraga Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu (2/10/2021). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Torang Bersodara di Tanah Papua

  •   Rabu, 13 Oktober 2021 | 07:20 WIB
  •   Oleh : Administrator

Anggota sendratari Ngesti Laras bukan hanya orang Jawa, melainkan juga orang asli Papua.

Di Papua akulturasi penduduk pendatang dan penduduk orang asli Papua (OAP) sangat kental dirasakan, terutama di tengah-tengah Penyelenggaraan PON XX. Semua penduduk gembira dan tersenyum dengan adanya kegiatan pesta olahraga nasional itu.

Terlepas dari semua itu, penyelenggaraan pesta itu merupakan melting pot (panci peleburan) budaya bangsa Indonesia yang luar biasa. Bagi masyarakat OAP, seperti dikatakan Nahemia Suebu, penduduk asal Kampung Hobong, dari Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, peleburan budaya sebagai torang bersodara sangat kental.

Torang bersodara. Yang jelas, kami sangat senang dilibatkan di PON XX Papua. Kami sudah tampil sebanyak tujuk kali sejak pembukaan. Kini kami pentas lagi di Enembe [Stadion Utama Lukas Enembe],” ujarnya ketika ditemui di GOR Toware, Kabupaten Jayapura, Senin (11/10/2021).

Sesaat kemudian, Nahemia memberi kode kepada teman-temannya agar bersiap-siap untuk unjuk pentas tarian Mandep, sebuah tarian selamat datang. Nahemia menuturkan, tarian itu bercerita soal lingkungan sekitar, termasuk soal Cycloop, pegunungan yang membentang dari barat ke timur sepanjang 36 Km.

Pegunungan Cycloop memiliki luas 32 hektare dan menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat yang menghuni tiga distrik di Kota Jayapura dan enam distrik di Kabupaten Jayapura. Cerita pegunungan Cycloop itulah yang menginspirasi Nahemea membuat tarian Mandep—cerita soal gunung Cycloop dan kasih sayang terhadap masyarakat, penghuni di seputaran pegunungan tersebut.

Tak lama, sebanyak 10 penari dari Kampung Hobong pun menuju arena pencak silat di GOR Toware. Dengan menggunakan mahkota dari bulu kasuari dan urai dari kayu, para penari mulai menari dengan gerakan ritmis disertai bunyi-bunyian tifa.

Tidak hanya menghadirkan seniman tari asal OAP, penyelenggara PON XX Papua di GOR Toware pun menghadirkan tarian kuda lumping atau prajuritan. Tarian itu dibawakan oleh para penari yang bernaung di dalam sendratari Ngesti Laras, atau biasa juga disebut sendratari Nusantara, dari Kampung Kombas, Sentani.

Tentu banyak yang menduga, para penari yang membawakan tarian kuda lumping dan prajuritan berasal dari tanah Jawa. Nyatanya, Tulus pengurus sendratari itu mengatakan bahwa anggota sendratari tidak hanya berasal dari orang Jawa, tapi juga ada yang berasal dari Papua. “Ada lima OAP di perkumpulan ini,” tuturnya.

Perkumpulan Ngesti Laras sendiri, menurut Tulus, sudah berdiri sejak lama. Yakni sejak era 1970-an, yang dibawa oleh Pemuda Pembangunan Irian Barat.

Kedua perkumpulan seni asal Sentani itu memang menjadi gambaran betapa tidak lagi ada pemisahan budaya yang tegas antara pendatang dan orang asli di Papua. Bahkan, mereka kerap saling memberi dan menerima serta mendapatkan manfaat dari pertukaran budaya itu demi kemajuan tanah Papua. “Kami semua bersodara di tanah Papua,” ujar Nahemia semringah.

 

 

Penulis: Firman Hidranto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari

Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber Indonesia.go.id.