INFRASTRUKTUR
  Presiden Joko Widoro ketika meresmikan Bandara Kuabang Halmahera Utara. SETPRES

Kabupaten Eksotik di Bibir Pasifik

  •   Kamis, 1 April 2021 | 14:34 WIB
  •   Oleh : Administrator

Pembangunan infrastruktur Bandara Kuabang akan mendorong pertumbuhan ekonomi baru di Halmahera Utara dan sekitarnya.

 

Presiden RI Joko Widodo baru saja meresmikan terminal baru Bandara Kuabang, yang terletak di Desa Jati, Kecamatan Kao, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, Rabu (24/3/2021). Bagi masyarakat awam, nama bandara itu tentu sangat asing di telinga.

Bahkan, bagi masyarakat yang memiliki rasa ingin tahu besar, tetap diperlukan riset kecil-kecilan demi bisa mengetahui lebih banyak perihal bandara tersebut. Kadangkala, Bandara Kuabang itu disebut dengan nama Bandara Kao. Itu sesuai dengan nama kecamatan di mana bandara itu berada.

Secara geografis, bandara itu terletak sekitar 85 km atau satu setengah jam dari Ibu Kota Kabupaten Halmahera Utara Tobelo. Atau berjarak sama dengan ke Ibu Kota Provinsi Maluku Utara Sofifi.

Ketika Bandara Kuabang diputuskan sebagai bandara alternatif bagi Bandara Babulah Ternate, tentu rencana pengembangannya sudah dibuat dengan beragam pertimbangan. Di mana diharapkan, pembangunan infrastruktur  bandara itu bakal mendorong pertumbuhan ekonomi baru di kawasan setempat.

Berbicara ihwal peresmian, Presiden Joko Widodo berharap terminal bandara itu bisa menunjang aktivitas masyarakat Halmahera Utara dan sekitarnya. Selain juga mampu menciptakan titik pertumbuhan ekonomi baru. "Saya sangat menyambut baik. Alhamdulillah terminal penumpang di Bandara Kuabang ini telah siap," kata Jokowi.

Dengan runway sepanjang 2.400 m x 30 m, Bandara Kuabang bisa didarati pesawat narrow body bermesin jet seperti Boeing 737 atau Airbus 320. Selain itu, bandara tersebut juga dapat menampung 160.000 penumpang per tahun.

Modernisasi bandara ini dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan transportasi udara terkait perkembangan bisnis dan pariwisata di Maluku Utara, khususnya Halmahera Utara. "Tadi Pak Menteri Perhubungan menyampaikan sebelum pandemi biasanya di sini ada dua flight dan satu carter. Tapi karena pandemi, berhenti. Sekarang yang berjalan kalau ada carter," katanya.

"Saya perintahkan kepada Menteri Perhubungan dan dirjen agar paling tidak minimal seminggu dua kali flight menuju ke Bandara Kuabang," jelasnya.

Menanggapi permintaan itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menjanjikan mulai pekan depan akan ada penerbangan komersial dari dan ke Kuabang-Manado. Penerbangan tersebut diharapkan bisa meningkat dua kali seminggu pada bulan depan.

 “Saya telah meminta pak Dirjen Perhubungan Udara untuk berkoordinasi dengan maskapai, untuk mengadakan penerbangan reguler dari Manado ke sini satu kali seminggu,” ujarnya, Rabu (24/3/2021).

Sebagai informasi, terminal bandara ini dibangun dengan menyedot anggaran sekitar Rp300 miliar. Kehadiran terminal ini diharapkan dapat mendukung konektivitas pariwisata di wilayah sekitar.

Tentu saja, ketika bandara itu ditetapkan untuk dikembangkan. Banyak pertimbangan sebelum diputuskan untuk diteruskan. Salah satunya adalah Bandara Kuabang difungsikan sebagai alternatif dari Bandara Sultan Babullah di Ternate.

Lokasi Bandara Sultan Babullah Ternate yang berdekatan dengan Gunung Gamalama dan Gunung Dukono yang sangat aktif, kerap kali mengalami gangguan operasional akibat terjadinya letusan kedua gunung itu.

Posisi Bandara Kuabang sangat strategis bagi pengembangan kawasan di Halmahera Utara yang memiliki potensi ekonomi yang sangat menjanjikan, baik dari sektor pariwisatanya maupun sumber daya alam yang dimilikinya. Di kabupaten itu, tepatnya di Gosowong, juga terdapat perusahaan tambang emas besar, PT Nusa Halmahera Minerals (NHM). Menurut data tambang itu memiliki cadangan emang 300.000 troy oz.

 

Wisata Situs Sejarah

Sebagai sebuah kabupaten, Halmahera Utara memiliki hampir 50 pulau yang tersebar di Laut Maluku dan Laut Halmahera. Hampir setiap pulau memiliki keindahan alam yang khas.

Pulau-pulau kecil dengan panorama pantai pasir putihnya, keindahan taman laut yang sangat indah dengan aneka ragam ikannya, keanekaragaman flora-fauna dan budaya serta situs-situs sejarah masa Perang Dunia II dapat dijumpai di daerah ini.

Misalnya, beberapa temuan arkeologis masa Perang Dunia II yang masih tersisa, seperti satu buah meriam, enam lubang perlindungan, satu landasan pesawat terbang, bekas permukaan landasan berupa drum, dan satu bunker.

Sayangnya, sebagian besar temuan sudah dalam kondisi rusak berat. Artinya, bila pemda, baik pemprov, maupun pemkab serius menggarap potensi wisata dari situs-situs masa Perang Dunia II itu sangat luar biasa dan layak jual bagi wisatawan mancanegara.

Belum lagi keindahan pantai pasir putihnya yang tidak perlu diragukan keindahannya. Serta, keanekaragaman seni budaya yang masih mengakar kuat di masyarakat adalah modal pariwisata yang potensial untuk dikembangkan.

Di Kao, ada pantai berpasir putih yang tiada dua indahnya. Salah satunya, adalah Pantai Gamlaha yang disebut-sebut sebagai yang paling indah di Kao. Di depan Pantai Gamlaha juga ada Pulau Bobale, yang bisa dinikmati snorkeling atau diving. Pulau Bobale juga menawarkan pesona biota laut dengan kedalaman 2-10 meter.

Selain Pantai Gamlaha, terdapat juga Pantai Sosol di Desa Sosol Malifut. Walau tidak seindah Pantai Gamlaha, keunikan pantai ini terletak pada bangkai kapal Tosimaru, peninggalan Jepang yang karam dan terlihat dari garis pantai.

Dari gambaran di atas, Kabupaten Halmahera Utara yang terletak di tepi utara Semenanjung Halmahera dan berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik itu memiliki potensi yang luar biasa untuk terus dikembangkan. Kabupaten itu sangat dimungkinkan untuk dijadikan gerbang niaga internasional, baik untuk skala Provinsi Maluku Utara bahkan Indonesia.



Penulis: Firman Hidranto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari