ENERGI
  Petugas merawat panel surya yang terpasang di atap Gedung Direktorat Jenderal (Dirjen) Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (EDSM), Jakarta, Senin (24/5/2021).  ANTARA FOTO/ Aprillio Akbar

Kini Beli PLTS Atap Bisa Dicicil

  •   Senin, 31 Mei 2021 | 12:19 WIB
  •   Oleh : Administrator

Perbankan milik pemerintah mulai menyediakan pembiayaan untuk pembelian PLTS atap secara kredit untuk optimalisasi pemanfaatan energi baru terbarukan.

Indonesia mempunyai potensi energi baru terbarukan dari sinar matahari sepanjang tahun sebesar 207,8 gigawatt (GW). Namun, pemanfaatan energi terbesar di muka Bumi tersebut baru sebesar 154 megawattpeak (MWp) dalam bentuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Sedangkan pemerintah sudah mencanangkan program bauran energi nasional hingga 23 persen pada tahun 2025 mendatang. Hingga akhir 2020 capaiannya sudah sebesar 11,2 persen atau 10,6 GW dari target 24 GW energi bersih pada 2025.

Oleh karena itu pemerintah dan para pelaku industri terus berupaya mengakselerasi pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia agar bisa mengurangi penggunaan energi fosil yang tingkat ketergantungannya saat ini masih di kisaran 90 persen. Ditargetkan, pada 2050 Indonesia sudah tidak bergantung lagi kepada energi fosil atau zero net energy.

Pemerintah pun melakukan berbagai cara agar energi baru terbarukan makin mudah dimanfaatkan di masyarakat. Termasuk pengembangan PLTS atap untuk kebutuhan rumah tangga dan gedung perkantoran.

Salah satu terobosan yang sudah dilakukan adalah menawarkan kepada masyarakat mekanisme pembelian perangkat PLTS atap untuk rumah hunian secara kredit atau bisa diangsur. Fasilitas pembiayaannya diberikan oleh Bank Mandiri, perbankan pemerintah sekaligus bank terbesar di Indonesia.

Seperti dikutip dari laman www.bankmandiri.co.id, Bank Mandiri telah menyepakati kerja sama pembiayaan PLTS atap bersama Kementerian ESDM, Dewan Energi Nasional, Satuan Kerja Khusus Pelaksana kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan PT LEN Agra Energi. Program pembiayaan ini bertujuan untuk mendukung energi hijau dan bauran energi nasional.

Menurut Senior Vice President Micro & Consumer Finance Bank Mandiri Josephus Koernianto, bentuk pembiayaannya adalah pemberian pinjaman tanpa agunan serta skema cicilan dengan kartu kredit. "Sebagai salah satu bank BUMN dengan peran sebagai agen pembangunan, Bank Mandiri memiliki komitmen kuat dalam menjalankan praktek keuangan berkelanjutan. Hal ini diwujudkan melalui penyusunan Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) yang diimplementasikan melalui tiga pilar strategis. Yaitu sustainable banking, sustainable operations dan sustainable corporate social responsibility and financial inclusion," katanya.

Salah satu inisiatif dalam pilar sustainable banking adalah pembiayaan kepada sektor-sektor berkelanjutan seperti energi baru terbarukan. Pembiayaan tersebut dapat disalurkan kepada korporasi ataupun masyarakat ritel. Bank Mandiri pun memilih optimalisasi pembiayaan PLTS atap untuk rumah hunian sebagai salah satu sumber energi baru terbarukan. 

Untuk tahap awal skema pembiayaan akan diberikan kepada nasabah Bank Mandiri, antara lain, pegawai pemerintahan dan swasta yang menyalurkan pendapatan tetapnya dalam bentuk rekening payroll. Konsumen yang ingin memiliki fasilitas listrik bersih dengan cara dicicil ini hanya perlu mengisi aplikasi permohonan kredit PLTS atap di kantor-kantor Bank Mandiri.

Jangan lupa untuk melengkapi dokumen aplikasi pemohonan kredit dengan identitas wajib seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yang masih berlaku. Josephus seperti dikutip dari Antara, Rabu (19/5/2021) mengatakan, melalui skema payroll ini, konsumen dapat mengajukan limit maksimal hingga sebesar Rp1 miliar untuk pembelian PLTS atap rumah hunian. Jangka waktu kredit yang diberikan adalah sebesar maksimal 15 tahun atau 180 bulan.

Untuk tahap awal, fasilitas ini hanya diberikan kepada nasabah Bank Mandiri yang berada di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) dan mulai diuji coba kepada para aparatur sipil negara dan karyawan di Kementerian ESDM, DEN, SKK Migas, dan PT Len Agra Energi, anak usaha PT Len Industri, perusahaan BUMN industri elektronik dan pertahanan.

Sebelumnya, fasilitas kredit pembiayaan pembelian PLTS atap bagi rumah hunian juga telah diberikan oleh Bank BRI pada Januari 2021. Kredit lunak yang diberikan Bank BRI berjangka waktu 15 tahun dengan suku bunga rendah, 0,92 persen per tahun dan tanpa agunan serta tanpa uang muka (down payment). Bank BRI menyiapkan fasilitas dalam bentuk Briguna BRI dengan mekanisme melalui payroll Bank BRI.

Dalam fasilitas pembiayaan PLTS atap, baik dari Bank Mandiri atau Bank BRI, produk PLTS atap yang ditawarkan adalah buatan Len Industri, yaitu LenSOLAR yang merupakan karya anak bangsa dan telah mengantongi Standar Nasional Indonesia (SNI). LenSOLAR yang diproduksi anak usaha Len Industri yaitu PT Surya Energi Indotama memiliki varian kapasitas mulai dari 1,5 kilowattpeak (kwp) yang mampu menghasilkan listrik setara 1.500 watt. Kemudian ada varian 3 kwp, dan 5 kwp.

Dikutip dari laman resminya, produk LenSOLAR ditawarkan antara Rp22.500.000 hingga Rp68.500.000 hanya untuk pembelian peralatannya. Dan harga antara Rp29 juta hingga Rp88 juta sudah termasuk biaya pemasangan.

 

Program ESN

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM nomor 49 tahun 2018 juncto nomor 13/2019 juncto nomor 16/2019 tentang PLTS Atap. Aturan ini pun akan kembali direvisi agar makin memudahkan masyarakat untuk memiliki PLTS atap.

Dari catatan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, hingga April 2021 tercatat baru sekitar 3.152 pelanggan listrik memanfaatkan PLTS atap dengan kapasitas terpasang 22,632 MWp. Pada 2020, realisasi pemasangan PLTS atap sebesar 13,4 MW dan untuk 2021 Ditjen EBTKE menargetkan 70 MW.

Pemasang PLTS atap dengan kapasitas terbesar adalah PT Coca Cola Indonesia. Mereka memasang panel surya berkekuatan 7,2 MWp di atap pabrik mereka di Cikarang, Jawa Barat. Ini adalah PLTS atap terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. PLTS atap kapasitas besar lainnya terpasang di atas pabrik air minum PT Danone Aqua di Klaten, Jawa Tengah dengan produksi listrik mencapai 3 MWp.

Ada banyak keuntungan yang diperoleh bagi para pelanggan listrik yang memasang PLTS atap. Salah satunya dapat menjual atau mengekspor listrik surya produksi PLTS atap kepada PT Perusahaan Listrik Negara senilai 65 persen dari tarif listrik yang berlaku. PLTS atap juga mampu menghemat pembayaran tagihan listrik pelanggan hingga 30 persen. 

Kementerian ESDM pun sudah mempermudah izin produksi peralatan PLTS dan mensyaratkan hanya yang mengantongi Standar Nasional Indonesia (SNI) serta tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) di atas 50 persen saja yang dapat dijual kepada masyarakat.

Kementerian yang dipimpin Arifin Tasrif ini juga mencanangkan program Energi Surya Nusantara dengan target pemasangan PLTS atap di lebih dari 500 ribu rumah tangga di Tanah Air. Sehingga pada 2030 diharapkan target kapasitas terpasang sebesar 2,14 GW PLTS atap bisa diwujudkan.

 

 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari