Provinsi Nusa Tenggara Timur
 
Alamat:
Jl. Raya El Tari No. 52 Kupang
 
Telepon:
0380-824 843
 
Fax:
0380-830 814
 
Email:
kpde@nttprov.go.id
 
Website:
www.nttprov.go.id

Hatta: NTT Keciprat 10 Persen

Selasa, 14 Februari 2012
Cetak PDF

Eksplorasi Minyak di Blok Masela-Laut Arafura, KUPANG - Provinsi Nusa Tenggara Timur kemungkinan kecipratan 10 persen dari hasil eksplorasi minyak di Blok Masela, Laut Arafura. Pembagiannya masih dalam proses pembahasan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. "Belum bisa diketahui NTT mendapat berapa besar. Namun NTT sudah pasti dapat," kata Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Pembangunan, Hatta Radjasa, kepada Pos Kupang di Kupang, Sabtu (11/2/2012).

Menurutnya, pembagian bagi hasil dari eksplorasi minyak di Blok Masela itu masih dalam pembahasan. Bahkan kemungkinan NTT akan mendapat porsi yang layak.

Apakah NTT akan mendapat porsi 10 persen seperti Provinsi Maluku? Menurut Hatta Radjasa, kemungkinan NTT juga mendapat 10 persen. "Namun keputusannya belum final karena masih dalam pembahasan di tingkat pusat. Kemungkinan sebesar 10 persen," tegas Hatta Rajasa.

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya sudah menyurati Presiden SBY agar memperoleh bagian dari hasil eksplorasi minyak di Blok Masela di wilayah perbatasan perairan NTT dan Maluku.

Harian Bisnins Indonesia pernah memberitakan, total kebutuhan investasi untuk pengembangan Lapangan Abadi di Blok Masela, Laut Arafura diperkirakan mencapai US$ 25 miliar.

Kepala Divisi Humas, Sekuriti dan Formalitas BP Migas, Gde Pradnyana, mengatakan investasi di Blok itu sangat mahal. Khusus untuk pembangunan Floating LNG plant-nya saja bisa menelan dana hingga US$ 8 miliar.

"Dari PoD (Plan of Development) yang diajukan, untuk Floating LNG dibuthkan sekitar US$ 8 miliar dan total investasi bisa mencapai US$ 25 miliar, itu sudah termasuk drilling dan operating cost. Tapi itu masih angka PoD yang kasar dan akurasinya masih sangat rendah," ujarnya.

Pada Desember 2010, pemerintah Indonesia menyetujui pengembangan lapangan Abadi dalam beberapa fase. Floating LNG plant rencananya akan dibangun dengan kapasitas produksi 2,5 juta ton per tahun dan 8.400 barel kondensat per hari untuk fase pertama pengembangan.

Saat ini, pemenang kontrak Front-End Engineering Design (FEED) untuk lapangan abadi rencananya akan segera diumumkan  dan duharapkan FEED-nya bisa dimulai pada Semester I/2012 dan gasnya bisa onstream pada 2016.

"Saat ini sedang pra-kualifikasi, proses pengadaannya masih berjalan. Sekarang sedang cari siapa yang akan lakukan FEED-nya, baru setelah itu ke tahap pelaksanaan dari FEED itu sendiri. Setelah itu, baru Impex (selaku operator) akan buat Financial Investment Decision (FID)," jelas Gde.

Setelah FEED dilakukan, lanjutnya, baru bisa diketahui berapa total angka investasi yang sebenarnya dibutuhkan melalui FID. Menurut Gde, investasi di Blok Masela tinggi karena Floating LNG Plant belum pernah ada di dunia ini.

Inpex Masela, anak usaha Inpex Corporation (perusahaan asal Jepang), pada 22 Juli diketahui telah menandatangani perjanjian pengalihan hak partisipasi sebesar 30% kepada Shell Upstream Overseas Services (I) Limited, anak usaha Royal Dutch Shell plc. Namun transaksi ini masih butuh persetujuan dari Pemerintah Indonesia. Meski demikian, Gde berpendapat wajar jika Inpex memilih Shell karena pengalaman Shell di bidang Floating LNG.

 


http://nttprov.go.id/provntt/index.php?option=com_content&task=view&id=2206&Itemid=1