Pangkalpinang, 11/10 (Pinmas) - Agama Islam mendorong bagi percepatan kehidupan berdemokrasi dan hal itulah yang membedakan dengan negara lain karena Islam di Indonesia bukan termasuk fundamentalis maupun liberalis tetapi Islam di tanah air adalah Islam ummatan washatan. Demikian disampaikan Menteri Agama Suryadharma Ali dalam jumpa pers di Hotel Novotel, Senin malam, usai membuka Annual Conference On Islamic Studies (ACIS) atau Konferensi Internasional Kajian Islam XI" di Pangkalpinang, yang berlangsung mulai 10-13 Oktober 2011. Pada kesempatan itu Menag didampingi Dirjen Pendidikan Islam Prof. Muhammad Ali dan Gubernur Bangka Belitung Eko Maulani.
Menurut Menag Suryadharma Ali, Indonesia bukan negara sekuler namun dalam kehidupan bernegara, agama Islam memberi warna dengan mendorong kehidupan berdemokrasi. Dan hal itu ditandai dengan berlakunya peradilan agama dan perundangan lainnya yang saling mengisi. Islam di Indonesia membawa rahmat bagi kedamaian semua umat. Islam Indonesia memiliki ciri yang sangat khas. Karena Indonesia sebagai bangsa majemuk memiliki keragaman. Tapi keragaman itu bisa terwadahi dalam Islam.
Semua pihak sebagai warga dunia yang berwajah pluralistik harus bisa hidup bersama di atas sebuah prinsip untuk saling meneguhkan dan memperkuat antara satu dengan lainnya, katanya. Terkait konferensi tersebut, Menag mengatakan, Islam adalah agama yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, sub-kultur, kearifan lokal dan fakta agama yang beragam. Islam memberikan keadilan, kenyamanan, keamanan, keteduhan dan perlindungan kepada semua yang berdiam di muka bumi tanpa diskriminasi, apa pun agama yang dianutnya.
Islam yang hendak dikembangkan adalah toleran dan ramah terhadap siapa saja yang mempunyai kemampuan baik untuk membangun Indonesia yang bermartabat. Karena itu ia menilai upaya merawat dan merajut kebhinekaan dalam mozaik keindonesiaan merupakan langkah strategis yang mendesak untuk dilakukan bangsa ini. Sebelumnya Dirjen Pendidikan Islam, Prof. Muhammad Ali menyebutkan bahwa Annual Conmference on Islamic Strudies (ACIS) X, yang diselenggarakan di Banjarmasin pada tahun lalu mengangkat tema "Menemukan kembali Islam Indonesia (Reinventuing Indonesian Islam). Sebagai kelanjutan dari ACIS tahun lalu, maka sangat tepat jika ACIS XI di Banka Belitung mengangkat tema "Mozaik Islam, Ruang Publik dan Karakter Bangsa."
ACIS XI dimaksudkan sebagai "oase" dan rumah bersama untuk mendialogkan berbagai persoalan kebangsaan dan warna-warni pemikiran keislaman, keindonesiaan dan kebangsaan. Semua pihak dapat berpartisipasi dan memberikan kontribusi bagi pengembangan dan penguatan kajian keislaman, kata Muhammad Ali. "Salah satu persoalan krusial bangsa ini adalah membangun karakter bangsa." kata Mohammad Ali. Perilaku reaktif, emosional, dan anarkhis sudah menjadi tontonan keseharian sebagai yang diberitakan media massa. Bahkan ironisnya, terkadang yang tawuran justru antar pelajar yang tidak laik berbuat demikian. Hal ini sebagai indikator bahwa masyarakat kini cenderung menjauh dari nilai-nilai luhur bangsa.
"Oleh karena itu, nilai-nilai luhur bangsa perlu digali kembali." tandasnya. Menurut Ali, Islam Indonesia memiliki ciri khas. Karena Indonesia sebagai bangsa majemuk memiliki keragaman. Tapi keragaman itu bisa terwadahi dalam Islam. Semua pihak sebagai warga dunia yang berwajah pluralistik harus bisa hidup bersama di atas sebuah prinsip untuk saling meneguhkan dan memperkuat antara satu dengan lainnya. "Dalam konteks ini, wacana keislaman dalam ruang publik, keindonesiaan dan kemanusiaan haruslah dibingkai dalam satu tarikan nafas yang harmonis," papar Ali.
Sebelumnya juga Direktur Pendidikan Tinggi Agama Islam Prof. Dr. Dede Rosyada mengatakan, ACIS atau Konferensi Ilmuwan dan Ulama Studi Islam Internasional ke-11 dihadiri cendekiawan muslim dari dalam dan luar negeri dan sejumlah menteri. Pada ACIS yang mengambil tema "merangkai mozaik Islam dalam ruang publik untuk membangun karakter bangsa" bertindak selaku tuan rumah adalah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Syaikh Abdurrahman Siddik. Kegiatan ini dihadiri cendikiawan luar negeri yang telah terjadwal untuk presentasi dalam pleno, antara lain Prof. Dr. Ja`far Abdussalam (Mesir), Dr. Reem Al Nassher (Yordania) dan Dr. Zarina Nalla (Malaysia).
Merangkai muzaik Islam dalam ruang publik untuk membangun karakter bangsa menjadi tema pada "Annual Conference on Islamic Sudies (ACIS) XI lantaran Islam yang hendak dikembangkan di Indonesia yang ramah, terbuka, inklusif, pluralistik dan mampu menawarkan solusi terhadap berbagai masalah besar bangsa dan negara, katanya. Ditambahkannya, tercatat 377 makalah yang masuk, ada 330 yang memenuhi kriteria administratif. Dari hasil seleksi, ada 56 penulis artikel yang masuk sebagai kategori presented papers (mendapat undangan untuk presentasi), dan 51 paper masuk kategori "circulated paper/contributing papers". "Circulated papers" adalah makalah yang layak untuk diedarkan/dipublikasikan secara luas namun belum mendapat undangan untuk presentasi. (ant/es)
http://www.kemenag.go.id/index.php?a=detilberita&id=7867