|
UGM Rintis Pengembangan Local Genius |
|
|
|
18-12-2008 |
|
Yogyakarta, CyberNews. UGM tengah merintis pengembangan kearifan lokal (''local genius'') masyarakat Indonesia yang terancam punah dan tergerus dengan budaya dan teknologi asing. Padahal keragaman dan kearifan nenek moyang dalam hal teknologi terapan sudah terbukti dengan berdirinya bangunan mahakarya seperti Borobudur, Prambanan serta rumah adat dari seluruh nusantara.
''Kita khawatir kearifan lokal masyarakat akan punah, sehingga kita perlu identifikasikan kembali,'' kata Ketua Panitia Seminar Nasional ''Peran Pendidikan Tinggi dan Pimpinan Daerah Dalam Mengembangkan Local Genius'' Dr Supra Wimbarti MSc di Sekolah Pascasarjana UGM.
Supra menambahkan masyarakat Indonesia sangat kaya dengan ''local genius'' seperti tata cara mulai bercocok tanam, kekuatan suatu kapal, pengobatan tradisional, perwatakan, nasib, siasat hidup atau menjaga harmoni dengan sekitar. Untuk itulah, acara seminar nasional itu nantinya akan berusaha untuk mengidentifikasi ''local genius'' dari berbagai daerah dengan ranah ilmu pengetahuan yang melibatkan berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
''Berbagai perguruan tinggi ini bersama UGM ingin berusaha untuk bisa mengidentifikasi ''local genius'' tersebut dari berbagai ranah ilmu pengetahun,'' katanya.
Lebih lanjut dikatakan kearifan lokal daerah atau suku di Indonesia sudah lama berkembang dan sudah dipakai dalam kehidupan sehari-hari di daerah-daerah. ''Local genius'' itu sangat bermanfaat meningkatkan keluhuran bangsa namun belum terwadahi dalam ilmu atau teknologi tertentu. Padahal, kearifan lokal tersebut lahir dan berkembang di masyarakat dalam kurun waktu yang sudah amat lama, dari puluhan, ratusan dan bahkan ribuan tahun dalam bentuk artefak yang masih ada.
Pemeliharaan kerifan lokal itu sangat bergantung dengan kebiasaan masyarakat yang kental bertutur. Praktek kebiasaan bertutur itu diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan bahasa tutur. Sehingga sebagian masih ada yang melestarikan kearifal lokal itu dalam bentuk artefak tertulis pada lontar dalam bentuk narasi dengan bahasa kuno, namun juga tidak sedikit yang meninggalkannya. ''Hanya 20 persen yang masih melestarikannya,'' ujarnya.
Seminar yang melibatkan peserta dari kalangan ilmuwan dari beberapa perguruan tinggi dari Pekanbaru, Bandung, Malang, Jember, Yogyakarta hingga Kendari, menghadirkan pembicara palar antropolog UGM Prof Dr Irwan Abdullah, Bupati Bantul Idham Samawi, Prof Dr I Wayan Rai (ISI Denpasar), Dr Hermanu Triwidodo (IPB), Dr Jaka Sasmita (praktisi kesehatan) serta Ir Komang Merthayasa (ITB). (Bambang Unjianto /CN08)
http://www.suaramerdeka.com/ |