Provinsi
D.I. Yogyakarta

Alamat:
Komp. Kepatihan Danurejan Yogjakarta 55213

Telepon:
(0274) 562811-145, 373444

Fax:
(0274) 562811-145, 373444

Email:
bid@pemda-diy.go.id

Website:
www.jogjaprov.go.id


Home arrow Provinsi D.I. Yogyakarta arrow Transmigrasi arrow Transmigran di Bengkayang, Kalbar, Awal Yang Sulit

Transmigran di Bengkayang, Kalbar, Awal Yang Sulit PDF Print
23-07-2007
Perjuangan memang masih panjang. Kerja keras masih diperlukan karena baru 8 bulan, 50 KK dengan 183 jiwa transmigran asal DIY menempati lokasi Transmigrasi SP1 Capkala, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Mereka berusaha melupakan pengalaman pahit akibat gempa bumi 27 Mei 2006, dan mencoba menempuh lembaran kehidupan yang baru di bumi Kalimantan.

Trans Korban Gempa DIY, Menghapus Memori Membuka Lembaran Hidup Baru
Laporan: Biwara Y, Rosadi JS, Dadang S
Perjuangan memang masih panjang. Kerja keras masih diperlukan karena baru 8 bulan, 50 KK dengan 183 jiwa transmigran asal DIY menempati lokasi Transmigrasi SP1 Capkala, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Mereka berusaha melupakan pengalaman pahit akibat gempa bumi 27 Mei 2006, dan mencoba menempuh lembaran kehidupan yang baru di bumi Kalimantan. Ini kesan yang diperoleh ketika reporter www.jogjaprov.go.id mengunjungi Transmigran DIY di Capkala, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat awal Juli 2007 lalu.

Dari Pontianak, Ibukota Kalimantan Barat, lokasi trans ini berjarak sekitar 130 km. Kalau ditempuh dengan kendaraan memerlukan waktu sekitar 3 jam. Perjalanan menuju lokasi trans berjalan dengan lancar dan nyaman, karena jalan sudah beraspal. Kalau menggunakan angkutan umum, bisa ditempuh dengan Bus sampai Terminal Capkala, dengan ongkos sekitar Rp. 12.000,-  Untuk sampai di lakasi bisa disambung dengan opelet dengan ongkos sekitar Rp. 10.000,-. Memang masih sekitar 4 km jalan ke lokasi belum diaspal, baru diperkeras dengan batu, dan jalan tanah. Jalan-jalan di lokasi trans juga masih jalan tanah sehingga kalau musim hujan cukup repot untuk dilalui sepeda motor, apalagi mobil. Perhatian Bupati Bengkayang Yokubus Luna.MSi. terhadap program transmigrasi sangat besar. Terbukti Bupati menyempatkan mengantar rombongan dari Provinsi DIY di lokasi transmigrasi.

Sebelumnya rombongan diterima Bupati di Kantor Camat Capkala, didampingi pejabat kabupaten dan Camat Capkala Petrus Diaz, TP. Dalam kesempatan itu Yakobus Luna menjelaskan bahwa Kabupaten Bengkayang terdiri dari 17 Kecamatan , 217 Desa , 2 Kelurahan, mempunyai luas 5.396,30 km persegi tidak termasuk lautan dengan penduduk sebanyak 200.000 jiwa. Kabupaten Bengkayang sendiri adalah Kabupaten pemekaran dari induk Kabupaten Sambas sesuai dengan Undang-undang nomor 10 Tahun 1999. Sedangkan karakteristik Kabupaten Bengkayang lanjut Yokubus Luna mempunyai daerah pantai dan ada pulaunya. Transportasi daerah ini juga mudah, serta daerah perbatasan langsung dengan Serawak Malaysia Timur. Disamping itu tanahnya subur berbagai tanaman bisa hidup dan berbuah seperti jeruk, durian, dan nanas. Bahkan jeruk menjadi komoditas unggulan daerah ini. Dalam perjalanan ke lokasi trans, juga terlihat tanaman jeruk di sebalah kanan kiri jalan. Tempat pengepul jeruk juga ada, tidak jauh dari lokasi trans. Sedang lahan pertanian ditanami padi,jagung, kedelai dan sebagainya. Menyinggung pelaksanaan Program Transmigrasi, Bupati Bengkayang minta kepada pemerintah untuk membantu pembangunan infrastruktur pendukung, seperti jalan dan jembatan. Kalau hal itu dibebankan pemerintah kabupaten jelas tidak mampu. Kepada daerah pengirim, Bupati berharap agar terus memantau supaya tetap ada kedekatan dengan daerah pengirim, sehingga hubungan psikologis dan kultural bisa kita padukan.

Seusai diterima di Kantor Kecamatan Capkala, Rombongan dari DIY beserta Bupati Bengkayang dan jajarannya menuju lokasi transmigrasi. Dialog dengan warga transpun dilaksanakan di Balai Pertemuan Transmigrasi SP1 Capkala. Nampaknya kondisi tanah di lokasi ini memerlukan perhatian khusus, agar hasilnya maksimal. Hal ini terungkap dari penjelasan warga dan harapan agar para transmigran diberi bantuan kambing. Harapannya kotoran kambing dapat dimanfaatkan untuk pupuk sehingga kesuburan tanah meningkat. Lahan pekarangan milik warga trans memang sudah mulai ditanami. Beberapa diantaranya sudah ditanami jagung, ketela, semangka, kacang tanah, cabe dan sayuran lainnya. Seorang ibu, yang juga membuka warung di dekat Balai Pertemuan, mengajak reporter www.jogjaprov.go.id melihat hamparan tanaman semangka di belakang rumahnya. Tanaman itu nampak cukup subur, dan sudah mulai berbuah. Warga trans memang belum mengandalkan kebutuhan hidupnya dari hasil pengolahan lahan pekarangan, karena masih mendapat Jatah Hidup dari Pemerintah. Lahan usaha, yang luasnya 2 ha, juga belum mereka dapatkan, masih dalam proses penyiapan. Apabila digarap dengan sungguh-sungguh, lahan di lokasi tersebut cukup subur, apalagi kalau ditambah pupuk.

Lokasi ini juga tidak terlau jauh dari pusat perekonomian. Dengan pusat perekonomian terbesar yaitu di Desa Sungai Duri, Kecamatan Sungai Raya hanya berjarak sekitar 20 km, bisa ditempuh dengan oplet dengan biaya Rp. 7 ribu, ditambah ongkos ojek menuju lokasi trans sekitar Rp. 10 ribu. Fasilitas pendidikan, yaitu SMP 1 Capkala berjarak sekitar 6 km dari lokasi trans. Sedang gedung SD ada di jalan masuk menuju lokasi trans. Lokasi gedung sengaja dipilih di tempat itu, agar SD bisa dimanfaatkan, baik oleh warga trans, maupun warga setempat, yang berada di luar lokasi trans. Mereka sama-sama dekat dengan gedung sekolah.  Kepada para Transmigrasi, Kepala Dinas Nakertrans Kabupaten Bengkayang, Maksum Jauhari mengatakan ada beberapa kebijakan yanhg diambil dalam pengembangan program transmigrasi. Pertama, membangun kebersamaan antara warga dari daerah asal dan warga setempat, antara Pemda dengan warga trans dan antara Pemda pengirim dan penerima trans.
Kedua, Pemerintah ingin meningkatkan tarap hidup warga trans.

“Pemerintah tidak ingin warga transmigrasi lebih sengsara di sini. Karena itu segala fasilitas, seperti infrastruktur jalan, kesehatan, pendidikan akan disediakan oleh Pemerintah. Namun karena anggaran terbatas, maka ada prioritas,” kata Maksum Jauhari. Hal itu menanggapi keluhan warga, yang disampaikan oleh Sekretaris Desa Capkala, maupun warga trans lainnya, yang kebanyakan meminta agar infrastuktur ditingkatkan. Mereka juga masih kesulitan memenuhi kebutuhan air minum, karena harus mengambil air di sumber mata air yang terletak di pinggiran lokasi Trans SP1, di dekat kali karena air sumur tidak layak untuk dikonsumsi, hanya digunakan untuk mandi. Menanggapi rencana pemanfaatan lahan usaha, yang luasnya 2 ha, Bupati Bengkayang mengatakan, Pemerintah mempunyai rencana untuk mengembangkan agro, seperti karet dan pinang. Namun dari aspirasi yang berkembang dalam dialog tersebut, warga trans nampaknya lebih menginginkan tanaman karet, yang lebih menguntungkan hasilnya. Hubungan antar warga, baik sesama trans yang berasal dari daerah yang berbeda, maupun dengan penduduk setempat tidak ada masalah. Hal itu diungkapkan oleh Sucipto, Ketua Paguyuban Masyarakat Adat Kecamatan Capkala.

“Hubungan kami baik-baik saja, satu sama lain bisa menerima. Tidak ada konflik yang terjadi,” kata Sucipto. Menanggapi keinginan warga untuk mendapatkan bantuan kambing, Drs. Joni Gunawan dari Dinas Nakertrans Provinsi DIY meminta agar warga trans mengirim surat kepada Pemerintah Provinsi DIY untuk mengajukan permohonan bantuan tersebut. Warga Trans Capkala memang masih perlu kerja keras, karena ujian terberat bagi transmigran adalah dimasa-masa awal penempatan. Tanah tersedia memadai, menanti untuk dikerjakan. Hanya yang mau bekerja keras dan bersedia menerima tantangan alam, itu yang akan berhasil. Mereka meninggalkan DIY, ingin mewujudkan kehidupan yang lebih baik, karena gempa telah memporakporandakan harta milik mereka. (Subbid Pemberitaan) 1
 
Copyright Sekretariat Negara Republik Indonesia. All rights reserved 2008