Ketenagakerjaan

Home arrow Ketenagakerjaan

28-01-2010
MENAKERTRANS CANANGKAN DESA PRODUKTIF PDF E-mail

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) RI, Drs H Abdul Muhaimin Iskandar Msi mencanangkan Desa Sumogirang Kecamatan Prambon Sidoarjo sebagai desa produktif, Rabu (27/1). Pencanangan tersebut dilakukan bertujuan untuk menyerap tenaga kerja sekaligus membangun padat karya produktif yang ada di wilayah pedesaan. (put)


“Tujuan dicanangkannya desa produktif ini untuk memberikan kesempatan kerja, juga untuk meningkatkan produktifitas kerja masyarakat. Selain itu, sekaligus juga untuk membangun peran serta masyarakat dalam pembangunan,” kata Muhaimin Iskandar.

Untuk mencapai tujuan tersebut, ia berharap etos kerja  dan jiwa kewirausahaan masyarakat bisa tercipta dengan sendirinya. Selain lewat individu per individu, dalam kelompok kerja desa juga diharapkan bisa terbangun. Ia juga berharap agar potensi ini juga bisa dikembangkan melalui kelompok-kelompok ekonomi kreatif. Dan sekaligus, diharapkan dalam momen seperti ini bisa untuk mencari peluang-peluang baru.

Untuk menandai dicanangkannya desa produktif, Muhaimin berkesempatan menebarkan benih makanan untuk ribuan ikan lele. Ia berharap, manfaat desa produktif dalam bentuk pengelolaan kolam ikan lele tersebut bisa bermanfaat dan bergulir terus. “Kami berharap agar model seperti ini akan bisa dilakukan bersama-sama lewat bantuan lintas departemen atau kementerian. Sehingga desa itu bisa menjadi sumber-sumber ekonomi baru,” terangnya.

Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kabupaten Sidoarjo, Hisjam Rosidi melalui Kasubdin Penempatan Tenaga Kerja Dinsosnaker Asrofi menjelaskan, di Kabupaten Sidoarjo, dalam pencanangan Desa Produktif terdapat 19 lokasi/desa. Salah satunya berada di Desa Sumogirang Kecamatan Prambon dan bebrapa lokasi lain di Kabupaten Sidoarjo. Bentuknya berupa pengelolaan kolam ikan lele, pelatihan dan bantuan peralatan. Pembiayaannya pun berasal dari dana APBN 2009 yang dialokasikan melalui bantuan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) RI.
Untuk memberikan stimulan usaha awal, pemerintah memberikan bantuan dana untuk upah para pekerja. Setiap pengelolaan kolam, ia menyebutkan, kalau usaha itu mampu mempekerjakan 88 orang pekerja. Itu terdiri dari 80 pekerja kasar, 4 ketua kelompok dan 4 orang tukang pembuat kolam. Masing-masing dari mereka mendapatkan gaji yang bervariatif. Untuk seorang pekerja kasar, setiap harinya mendapatkan upah sebesar Rp. 35 ribu perhari. Untuk ketua kelompok, masing-masing mendapatkan Rp. 40 ribu perhari. Lalu, untuk tukang pembuat kolam, diberikan upah sebesar Rp. 45 ribu perhari. (put)

http://jatimprov.go.id

Demikian dikatakan Sekretaris Kementerian Negara PAN, Tasdik Kinanto saat memberikan pengarahan pada pembukaan Pelatihan Kader Penggerak Budaya Kerja Aparatur Angkatan III di Hotel Horison Bekasi, Selasa (27/10).

Acara yang berlangsung 27-29 Oktober itu diikuti oleh sejumlah pejabat, baik dari daerah maupun instansi pusat. “Para kader penggerak budaya kerja, diharapkan bisa mendedikasikan dirinya untuk mendinamisir pengembangan budaya kerja di instansi masing-masing,” ujar Tasdik Kinanto menambahkan.

Lebih lanjut Tasdik mengatakan, dewasa ini masyarakat tidak sabar, ingin melihat dan merasakan kinerja yang dilakukan oleh jajaran birokrasi. Hal itu bisa dilihat dari berita di media massa, yang dalam beberapa hari terakhir memberitakan kenaikan gaji pejabat. “Tampaknya mereka tak rela kalau uang negara dibagi-bagi, sementara para pejabat itu belum menunjukkan kinerjanya seperti diharapkan,” tambahnya.

Untuk itu, kini sedang disusun program kerja 100 hari, 1 tahun dan lima tahun Kabinet Indonesia Bersatu II, agar akuntabilitas cabinet diketahui oleh masyarakat.

Disinggung juga bahwa APBN 2010 menetapkan pertumbuhan ekonomi 6 – 7 persen. Menurut Tasdik, pertumbuhan ekonomi itu tidak lepas dari adanya investasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Namun diingatkan, untuk mendorong investor menanamkan modalnya di suatu daerah, diperlukan pelayanan publik yang baik. ”Kalau investor dipersulit, banyak calo, ada KKN, pungli dan sebagainya, maka investor tentu memilih menanamkan modalnya di negara yang lebih mudah,” ujarnya.

Sebagai perbandingan, Cina merupakan negara yang begitu baik dalam melayani pemodal. Urusan pajak belakangan, yang penting tenaga kerjanya dapat diserap. Ibaratnya, investor tinggal bawa koper. Bahkan ada investor dari Indonesia yang menanamkan modalnya di Cina.

Terkait dengan budaya aparatur negara, Tasdik mengungkapkan bahwa di Cina tidak ada pegawai yang ngobrol di kantor. Mereka bekerja sesuai dengan tugas masing-masing, karena di sana budaya kerjanya memang sangat baik. Kondisi serupa juga dapat dilihat di Jepang. ”Kita patut meniru budaya yang dilakukan aparatur negara di negara-negara itu,” tambahnya.


Sumber:
http://www.menpan.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=177&Itemid=1

 
Copyright Sekretariat Negara Republik Indonesia. All rights reserved 2008