|
Pemanfaatan tanaman untuk pengobatan sudah dilakukan bangsa Indonesia berabad-abad yang lalu. Saat ini tradisi pemanfaatan herbal ini telah mendapat temapt tersendiri dalam dunia farmasi. Namun demikian pengolahan dan pemakaian secara tradisional masih mendapatkan tempat tersendiri di masyarakat.
Demikian halnya, jamu sebagai tradisi herbal hasil olahan dari bumi Indonesia perlu mendapat perhatian. Sebagai salah satu obat bahan alam, jamu maupun ramuan tradisional agar dapat dimanfaatakan secara luas di masyarakat sebagai alternatif pengobatan. Tahapan pengakuan jamu sebagai herbal terstandar sampai akhirnya diakui sebagai fitofarmaka dianggap masih terlalu panjang. Menurut Eva Retnowulan, Kepala Produksi Jamu Jago, proses ini dapat memakan waktu bertahun-tahun.
Hubungan karyawan dengan perusahaan di Jamu Jago seringkali tak dapat dipahami hanya dengan aturan-aturan formal. Rata-rata usia kerjanya puluhan tahun, kata Eva. Tidaklah heran perusahaan ini tetap bertahan, dan saat ini Jamu Jago memiliki 120 jenis produk yang kini beredar di pasaran. Beberapa merek jamu seperti Buyung Upik, Jamu Pegel Linu, Esha, Purwoceng dan Basmingin cukup populer di masyarakat. Hal ini antara lain terungkap dalam acara ”Workshop Diversifikasi Pangan dan Obat Bahan Alam” di Ruang Komisi Utama Gd III BPPT tanggal 4 November lalu. Acara yang diselenggarakan oleh Asisten Deputi Pengembangan Budaya Iptek, Deputi Bidang Dinamika Masyarakat Kementerian Negara Riset dan Teknologi ini juga menghadirkan Ratu Jamu Gendong 2008, Anis Fadilah. Meski pada awalnya bercita-cita menjadi pemandu wisata, dan belajar bahasa Inggris dengan sungguh-sungguh di SMA, namun kondisi keluarga mendorong dia mempelajari meracik jamu. Keterampilan dalam meracik jamu inilah yang mengantarnya sebagai Ratu Jamu Gendong. Staf Ahli Menteri Negara Riset dan Teknologi Bidang Pangan dan Kesehatan, Liestyani Wijayanti mengemukakan, pengetahuan pengolahan tanaman obat ini perlu terus dikembangkan dipadukan dengan ilmu pengobatan modern. Dukungan iptek pada kearifan lokal akan memberikan sumbangan yang tidak kecil terhadap peningkatan pendapatan masyarakat. Pengetahuan mengenai bahan pengobatan dan makanan yang bahan dasar pembuatannya dari tumbuhan dan tumbuhan obat yang banyak tersebar di berbagai daerah di Indonesia juga akan mendorong kemandirian nasional dalam bidang pangan dan kesehatan. (ad-pbipt/dep-dm/ humasristek) http://www.ristek.go.id/?module=News%20News&id=4707 |